Amir Hamzah dalam Buah Kerinduanya

            Buah Rindu berisi kumpulan puisi raja Pujangga Baru Amir Hamzah, yang dilahirkan tanggal 28 Februari 1911 dari kalangan bangsawan Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara. Kapan meninggalnya, beberapa waktu tidak ada yang tahu pasti. Adalah suatu sindiran nasib bahwa penyair yang yang demikian perasa telah diakhiri hidupnya dengan kekerasan senjata di Jaman pergerakan revolusi sosial di Sumatera Utara . Diangkut oleh pemuda tanggal 3 Maret 1946 malam bersama keluarga Sultan dan orang-orang besarnaya kemudian dipancung tanpa periksa di Kuala Binggai.

            Buah Rindu memuat 25 sajak, satu diantaranya terdiri dari empat bagian dan satu terdiri dari dua bagian. Kumpulan ini ditandai dengan kata-kata seperti “iba”, “menangis”, “duka”, “sendu”, “merana”, “rindu”, “airmata”, dan sebagainya. Kata-kata yang menyatakan perasaan kesedihan dan kemeranaan. Lain-lain perkataan yang menunjukan kepada sifat dan suasana jiwanya ialah “kelana”, merantau”, ‘cinta”, “asmara”, ratap, “sayu”, “rayu”, dan sebagianya. “Wahai” dan “yuhai” dipergunakan sebagai serua sedih, pun dalam menyeru kekasih. Oleh banyaknya kata ini kita mendapat kesan ketidakseimbangan jiwa penyair, ketidakseimbangan yang juga ditemukan dalam salah satu bait puisinya puisinya seperti:

Berdiri aku

Dalam rupa maha sempurna

Rindu-sendu mengharu kalbu

Ingin datang merasa sentosa

Menyecap hidup tertentu tuju.

            Kata Rindu nampun menjadi sendu seolah mengisyaratkan hati penyair yang tidak menentu dipertegas dengan baris mengharu kalbu semkkin tergambarlah kegalauan hati penyair yang juga muncul di puisi-puisi lain seperti :

Buah Tindu II

Datanglah engkau wahai maut

Lepaskan Aku dar nestapa

Engkau lagi tempatku berpaut

Di waktu gelap ini gulita.

            Penyair seolah hanya berayun diatas rasa, setiap yang mengena indranya adalah penggerak kesedihan dalam jiwanya.

Amir Hamzah seorang Penyair Romantis

            Dalam kumpulan puisi Buah Rindu dapat kita temukan sebuah puisi yang berjudul Harum Rambutmu yang salah satunya berisi begini

Harum rambutmu serasa  ada

Dalam bunga duduk bersembunyi

Suma mana ratna mulia

Kanda sibuk tengah mencari

            ada pula puisi yang berjudul Purnama Raya yang salah satunya berisi

Purnama raya

Bulan bercahaya

Amat cuca

Ke Mayapada

            Dalam pemilihan katanya tersirat makna mendalam dan berkias menunjukan suatu rasa yang disusun dengan apik dalam kata-kata yang indah hingga berkesan romantis. Tepatlah jika dikatakan bahwa Amir Hamzah adalah seorang penyair yang romantis, sangat berbeda bila kita bandingkan dengan kumpuln puisi Charil Anwar yang kebanyakan memakai kata-kata yang tidak banyak basa basi dan langsung pada pokok inti dan maksud dari puisinya seperti dalam puisi Diponegoro, Karaang Bekasi, Aku dan lain sebaginya.

Puisi Amir Hamzah Tidak Bertanggal

            Sangat disayangkan bahwa puisi-puisi Amir Hamzah tidak bertanggal, seperti biasa para penyair tidak menanggali buah ciptaannya. Kita hanya dapat mengira-ngira urutan kronologisnyadari urutan pemuatannya dalam majalah, surat kabar atau penerbitan sebuah buku. Bagi orang luar adanya penanggalan dapat memudahkan menggali lebih dalam sisi kehidupan penyair dan isi puisinya. Tapi bagi penyaiir memang apalah arti waktu, jam berapa dan tempat di mana, yang pentng baginya aialah penngalaman batin yang dapat dituangkan dalam segala kepenuhannya.

Daftar Pustaka

Amir Hamzah. Buah Rindu. 1996.  Jakarta: Dian Rakyat.

H.B. Jassin. 1996 Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru. Jakarta: PT Gramedia Wididasarana Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abad Yang Berlari  Bersama Dada Afrizal Malna

            Abad yang Berlari. Lewat kumpulan sajak inilah 25 tahun yang lalu Afizal Malna menapakkan kakinya dengan kokoh di dunia sastra Indonesia. Karya yang diterbitkan pertamakali di tahun 1984 ini, memberi pengaruh yang cukup luas bagi perkembangan sastra kita. Maka tidak mengherankan jika pada waktu itu buku ini mendapat Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta.

            Abad yang berlari adaalah salah satu kumpulan puisi seorang Afrizal Malna Afrizal Malna yang Lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Pendidikan akhir Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (tidak selesai) yang terbit pada tahun 1984, sekarang diterbitkan kembali oleh penertbit Omahsore 2009.

            Dalam Kumpulan pusi Abad Yang Berlari ini yang menarik pada puisinya kali ini Afrizal banyak menggunakan kata-kata anggota tubuh didalamnya, seperti “dada” yang ada dalam judul puisinya.

Dalam kumpulan puisi Abad Yang Berlari, kita akan menemukan puisi berjudul “dada” yang salah satu baitnya berisi begini:

Dada

Sehari. Waktu tidak menanam apa-apa, dada. Hanya hidup,

 hanya hidup membaca diri sendiri; seperti anakanak membaca, seperti anak-anak bertanya. Menulis, dada. Menulis kenapa harus menulis, bagaimana harus menulis, bagaimana harus ditulis. Orang-orang menjauh dari setiap yang bergerak, dada;

seperti menakuti setiap yang dibaca dan ditulisnya sendiri. Membaca jadi mengapa mebaca. Menulis jadi mengapa menulis.

1983

                         Dalam bait puisi diatas “dada” disebut sebanyak tiga kali, dalam isi puisi diatas dada bukan dimaksudkan terhadap salah satu organ manusia, namun disini Afrizal Malna menjadikan “dada” sebagai objek yang hidup yang mampu bekerja seperti manusia, dimana si “dada” mampu menulis.

Dalam puisi Afrizal Malna juga masih terdapat kata-kata mengenai “dada”, seperti salah satu bait puisiinya yang berjudul

Jam Malam

“Semua jalan jadi salah bagi dadaku”

Sama halnya seperti isi puisi sebelumnya, dada disini menjadi subjek, sesuatu yang hidup. Dalam kumpulan puisi Abad Yang Berlari Afrizal Malna melakukan banyak sekali eksplorasi semacam itu. Jadi semacam terjadi proses totalisasi yang berpusat pada subjek dalam puisi Afrizal Malna, tempat segala objek menjadi subjek, ekspresi suasana hati manusia. Di situ kita menyaksikan sebuah personifikasi subjek, sebuah antroposentrisme (faruk:150). Kumpulan puisi Abad Yang Berlari menampung banyak sekali diksi “dada” mulai dari puisi yang berjudul “dada”, “tanah dada”, sampai “dia hanya dada”. Nampaknya Afrizal Malna begitu terpesona pada dada hingga ia enggan untuk berjauhan dari dada.

Ternyata dalam buku kumpulan puisi Afrizal malna dalam Abad Yang Berlari  tidak hanya menyebut-nyebut dada sebagai Objek maupun Subjek. Metafor lain yang ia gunakan ialah “Televisi” ini menjadi unik karena seperti yang kita ketahui puisi sekarang menjadi sebuah kebutuhan manusia yang primer, berbeda dengan pada era 80an, dimana televisi menjadi benda yang mahal dan langka. Televisi seperti merenggut sebagian besar perhatian manusia, manusia tidak lagi berpikir nama, tidak lagi berpikir tempat. Semua telah terenggut televisi. Atau juga dalam puisi “chanel 00” yang sangat pendek,begini bunyinya:

Chanel 00

            Sebentar.

            Saya sedang bunuh diri.

            Teruslah mengaji dalam televisi berdarah itu, bunga.

            1983

            Puisi yang pendek dan unik yang menjadikan Televisi sebagai Subjek dalam puisinya ini. Masih terdapat metafor lain dalam kumpulan puisi Afrizal Malna ini seperti kata “Palu” dalam puisinya yang berjudul

Abad yang berlari . Dan uniknya lagi, “dada”, “palu” selalu dikombinasikan dengan waktu. Nampaknya afrizal hendak menyampaikan bahwasanya waktu dalam dada sama dengan palu yang memukul-mukul, saling berdampngan untuk memukul-mukul yang diartikan sebagai kehidupan.

 

Daftar Pustaka

Afrizal Malna. 2009. Abad Yang Berlari. Yogyakarta: Omahsore.

Anonim . 2010 “AFRIZAL MALNA  ODE KAMPUNG DAN KUK BERBEDA “ « Indonesia Literary Community.htm. Diunduh 4 Juni 2010

Anonim. 2010. http://www.omahsore.web.id/2009/04/15/abad-yang-berlari-kumpulan-puisi. Diunduh 22 Juni 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Derai Cemara Chairil

            Chairil Anwar yang lahir di Medan, 26 Juli 1922 dan meninggal pada usia 26 tahun 9 bulan. Dalam kumpulan puisi Derai-derai Cemara yang memuat 75 puisi Chairl Anwar, dua sajak saduran dan beberapa prosa. Di Awali dengan kata pengantar yang dituliis oleh Putri satu-satunya Chairil Anwar yaitu Evawani Alisa Ch. Anwar dengan menyampaikan kenangan tentang ayahnya.

Chairil dalam Puisinya

Dan aku akan lebih tidak peduli

aku mau hidup seribu  tahun lagi

(puisi “Aku”)

Begitulah salah satu isi dari bait puisi yang berjudul “Aku”, Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi. Sangat jauh berbeda ketika kita membaca salah satu puisi Charil yang salah satu baitnya berisi

Hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah

dan tahu, ada yang tidak diucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

(puisi Derai-derai Cemara, 1949)

            Puisi keduanya sangat berbeda, dalam puisi “Aku” Chairil seolah tergambarkan semangatnya yang menggebu-gebu tanpa peduli apa-apa yang ada disekelilingnya, seberapapun susah dan payahnya usaha Chairl yakin hidup adalah sebuah perjuangan dimana ia akan mampu hidup sampai seribu tahun lagi. Bandingkan dengan puisi Derai-derai cemara “Hidup hanya menunda Kekalahan”, hal ini menunjukan dimana Puisi yang serupa dengan puisi Aku yaitu bertemakan perjuangan dan semangat yag berapi-api diantaranya seperti, Diponegoro, Persetujuaan dengan Bung Karno, Prajurit Jaga Malam, Krawang-Bekasi dan lain sebagainya. Sedang yang bernafaskan penyerahan pada sebuah kematian seperti puisi yang berjudul Nisan, Yang terlepas dan yang putus dan sebagainya. Dalam puisi Chairiil pun dapat ditemukan puisi yang berbau religius seperti puisinya Doa, Isa, Di Mesjid dan sebagainya, Puisi-puisi yang bertema percintaan dan kekaguman juga tertuang dalam puisi-puisi Chairl. Hal ini menunjukan  Chairil bukan hanya seorang penyair yang melulu pada sebuah tema, dia seolah mengungkapkan apa saja yang sedang dia rasakan dalam puisinya yag berbahasa bebas. Memang seperti yang kita ketahui sastra angkatan 45 berpijak pada pengalaman hidup nyata, keras dan pahit. Keadaan yang penuh kesulitan ekonomi, politis, social dan budaya menjadi dasar penciptaan sastra angkatn 45 ini, termasuk aliran yang dibawa oleh Chairl Anwar. Ada sebuah pusi dari Chairil yang menarik bagi saya yaitu

Sekeliling dunia bunuh diri! Aku minta adik lagi pada

Ibu dan Bapakku, karena mereka berada

di luar hitungan: Kamar begini,

3 X 4m, terlalu sempit buat meniup nyawa!

(Sebuah Kamar, 1846)

            Puisi ini menunjukan kekecewaan pada dunia, membuat hidup seolah menyiksa seperti yang tertuls ‘3 X 4m, Terlalu sempt buat menup nyawa,” Dalam bait puisi yag terakhir Chairil nampak lebih mendeskriptifkan suasana yang membangun majinasi bagi pembaca dengan gaya seperti obrolan. gaya Deskriptif ini jarang dtemukn dalam pusi-pusinya Charil yang lain.

            Dari segi penataan bahasa dan gaya bahasa, Chairl memang mempunyai gaya sendiri untuk mengeluarkan ekspersi dan aktualisasi dalam pembuatan puisi-puisinya. Tidak terkecuali pada pusi “Sebuah Kamar” ini. Tata Bahasa yang nyeleneh membuat Chairil terkesan buruk dalam segi tata bahasa yang berlaku di Indonesia atau yang diterapkan untuk umum. Dapat diilihat perbedaannya dengan bentuk-bentuk puisi Amir Hamzah yang teriikat satu dengan yang lainnya.Dalam proses penulisannya Chairil seolah tidak pernah mempedulikan sekitarnya, apa yang orang pikirkan terhadap karyanya, namun seiring berjalannya waktu, Chairil mendapat perhatian dari penggemar sastra di Indonesia pada umumnya.

Daftar Pustaka

Chairil Anwar. 2000. Derai-derai Cemara. Jakarta: Departemen Pendidikan Naional.

Taufik Bilang Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

            Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, mungkin inilah yang melatar belakangi seorang penyair Taufik Ismail yang menuangkan segala bentuk kekecewaannya tentang Indonesia di masa Orde baru. Buku kumpulan puisi yang berjudul Malu (aku) jadi orang Indonesia bukanlah buku puisi pertama Taufik Ismail yang berisi protes atau sebuah kekecewaan terhadap pemerintahan Indonesia. Tirani dan Benteng adalah Protes kekecewaan seorang Taufk terhadap Orde Lama. Beberapa Puisi Taufik yang terdapat dalam buku puisi Malu (aku) jadi Orang Indonesia

12 MEI 1998
Empat syuhada berangkat pada suatu
malam, gerimis air mata
tertahan di hari keesokan, telinga kami
lekapkan ke tanah kuburan
dan simaklah itu sedu sedan
Mereka anak muda pengembara tiada
sendiri, mengukir reformasi
karena jemu deformasi, dengarkan saban
hari langkah sahabat-
sahabatmu beribu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom
abad duapuluh satu
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi
kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena
kalian berani mengukir
alfabet pertama dari kata reformasi-damai
dengan darah
arteri sendiri,
Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk
di bawah garang
matahari tak mampu mengibarkan diri
karena angin lama
bersembunyi,
Tapi peluru logam telah kami patahkan
dalam doa bersama, dan kalian
pahlawan bersih dari dendam, karena jalan
masih jauh
dan kita perlukan peta dari Tuhan

1998
TAKUT 66, TAKUT 98
Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa


1998

            Dalam puisi Takut 66, TAKUT 98 Taufik  benar-benar menyajkan sesuatu yang baru yang tidak pernah terfikir sebelumnya, rasa kesenjangan yang terjadi rupanya semua akan berbalik arah, tapi tdak pernah terfikirkan oleh masyarakat sebelumnya.

Buku puisi Malu (Aku) jadi Orang Indonesia (MAJOI) berbeda dengan karya Taufik sebelumnya yaitu Tirani dan Benteng (TB) dalam MAJOI ini Taufik tidak menyeru dan membentak atau berterak-teriak menggunakan slogan-slogan, tapi seperti bertanya dan berfikir tentang apa yang terjadi. Taufik tidak lagi menjadi pemain tunggal, tapi lebih kepada pengamat atau penonton yang kritis pada sebuah tontonannya. Cara ini memmbuat puisinya lebih diskurtif. Gambar visual yang kental telah digantikan imaji yang sangat padat, imajinasi yang dibangun tidak hanya melukis gejala Konkrit, melainkan gejala abstrak dengan bahasa kias. seperti,

Hari depan Indonesia adalah lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian berwarna hitam yang menyala bergantian.

Kembalikan

Indonesia

Padaku

(Kembalikan Indonesia Padaku)

Dalam kutipan puisi tersebut jelas tidak ada penggambaran konkrit, Taufik memakai istilah lampu dalam mengungkapkan keterpurukan bangsa akibat berbagai hal seperti korupsi, kemiskinan, penindasan dan lain sebagainya.

Tentang seorang Taufik Ismail

            Melihat  dari riwayat hidupnya yang berlatar belakang seorang lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963, sekarang Institut Pertanian Bogor) tidak terbayang malah menjadi seorang sastrawan, bahkan penyair yang pandai menulis puisi. Tapi Taufiq yang memang sudah bercita-cita jadi sastrawan sejak masih SMA di Pekalongan, Jawa Tengah. Kala itu, dia sudah mulai menulis sajak yang dimuat di majalah Mimbar Indonesia dan Kisah. Dia memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang suka membaca, sehingga dia sejak kecil sudah suka membaca. Kegemaran membacanya makin terpuaskan, ketika Taufiq menjadi penjaga perpustakaan Pelajar Islam Indonesia Pekalongan. Sambil menjaga perpustakaan, dia pun leluasa melahap karya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, sampai William Saroyan dan Karl May. Dia tidak hanya membaca buku sastra tetapi juga sejarah, politik, dan agama.

            Kesukaan membacanya, tanpa disadari membuatnya menjadi mudah dan suka menulis. Ketertarikannya pada sastra semakin tumbuh tatkala dia sekolah di SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS. Dia mendapat kesempatan sekolah di situ, berkat beasiswa program pertukaran pelajar American Field Service International Scholarship. Di sana dia mengenal karya Robert Frost, Edgar Allan Poe, Walt Whitman. Dia sanga menyukai novel Hemingway The Old Man and The Sea.

            Namun setelah lulus SMA, Taufiq menggumuli profesi lain untuk mengamankan urusan dapur, seraya dia terus mengasah kemampuannya di bidang sastra. Dia juga kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia di Bogor, lulus 1963. Semula dia berobsesi menjadi pengusaha peternakan untuk menafkahi karir kepenyairannya, namun dengan bekerja di PT Unilever Indonesia, dia bisa memenuhi kebutuhan itu.

 

Daftar Pustaka

Taufik Ismail. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. 1998. Jakarta: Yayasan Ananda

Taufik Ismail. Tirani dan Benteng. 2001. Jakarta: Yayasan Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ungkapan Taufik Untuk Orde Lama dalam Tirani dan Benteng

            Tirani dan Benteng, adalah kumpulan puisi Taufik Ismail yang menggambarkan kekecewaan atau bentuk protesnya terhdap masa Orde lama. Puisi-puisi dalam Tirani dan Benteng ini adalah tulisan Taufik yang baru selesai ia ketik dan nampak oleh Arief Budiman. Dia senang sekali membacanya. Arief langsung mengambilnya, padahal Taufik masih ingin membenahi hasil puisinya. Tapi Arief bersikeras tidak mau mengembalikannya, dan akan segera ia publikasikan. Rupanya tindakan Arief sangat benar. Saat Taufik pulang ke Pekalongan mengambil batik, tasnya hilang. Andai saja puisi itu tidak di ambiil Arief mungkin puisinya pun akan ikut hilang.

Beberapa Puisi yang terdapat dalam Trani dan Benteng

Tiga anak kecil

dalam langkah malu-malu

datang ke Salemba sore itu

‘Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan Bunga

……….

(Tiga anak kecil, 1966)

Sebuah Jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah berbeagi duka yang agung

dalam kepedihan bertahun-tahun

(Sebuah jaket berlumur darah, 1966)

            Taufik benar-benar menggambarkan kepiluan dan kekecewaan yang mendalam didalam puisinya ini, sebuah perjuangan yang telah dilakukan orang-orang di jalan. Bahasanya yang lugas dan lantang menyerukan ketidak adilan di masa itu.

Lapar menyerang desaku

kentang dipanggang kemarau

surat orang kampungku

kugurat kertas

Risau

Lapar lautan pidato

Ranah dipanggang kemarau

ketka berduyun mengemis

kesinikan hatimu

kuiris

lapar di gununng kidul

mayat dipanggang kemarau

berjajar masuk kubur

kauulang jua

kalau

(Syair Orang Lapar, 1964)

            Puisi yang berjudul syair Orang Lapar ini sangat memvisualkan penglihatan Taufik terhadap melaratnya masa pada jaman Orde lama, “Lapar” menjadi kata yang selalu di ulang dalam puisi ini, hal ini jelas menegaskan sangat terpuruknya masyarakat ditengah kemiskinan yang disebut kemarau oleh Taufik, bahkan mayat berjajar masuk kubur. dalam Tirani dan Benteng ini ada sebuah puisi yang ingin melibatkan tuhan dengan segala kerendahan hati seperti

Tuhan Kami

Telah nista kami dalam dosa bersama

bertahun membangun kultus ini

dalam pikiran yang ganda

Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

………(Doa, 1966)

            Puisi yang berjudul Doa ni terkesan berbeda dengan puisi yang lainnya daalam buku iini, Taufik tidak hanya berteriak tidak menentu dalam kata-kaatanya, namun ia sematkan panjatan doa dalam puisinya untuk masa orde lama.

Foto dalam Tirani dan Benteng

            Dalam buku puisi ini, tidak hanya berisi puisi saja, tapi juga berisi gambar-gambar dimasa itu, yang didapat dari berbagai sumber yang sangat rapi menyimpan file-file foto tersebut selama bertahun-tahun milik DR. Boen S.Oemarjati dan juuga Birpen KAMI pusat. Vidualisasi demondtrasi 1966 dan puisi saling memperkaya buku Tirani dan Benteng ini, foto itu tidak harus menerangkan-menjelaskan isi puisi disebelahnya, dan puisi itu bukan pula bertugas sebagai teks gambar tersebut. Masing-masing beriri sendiri tapi mereka bersahut-sahutan dan sama-sama berteriak memanggil atau bahkan barang kali berduet menyanyi. Mereka lahir dalam masa yang bersamaan, menyaksikan zaman itu.

Daftar Pustaka

Taufik Ismail. 2001. Tirani dan Benteng. Jakarta: Yayasan Indonesia.

Taufik Ismail. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. 1998. Jakarta: Yayasan Ananda

 

 

 

Amir Hamzah dan Tuhan

            Puisi Amir Hamzah dalam Nyanyian Sunyi pada umumnya lebih bebas dari sajak-sajak dalam Buah Rindu. Sususnan empat seuntai dengan tiap baris terdiri dari empatkata seperti lazimnya bentuk syair dan pantun digantikan oleh bentuk yang meninggalkan aturan lama. Dari 24 (25) sajak dalam kumpulan ini ada 8 yang mengarah kebentuk prosa beriarama yaitu “Doa”, “Hanyut Aku”, “Taman Dunia”, “Mengawan”, Panji di Hadapanku”, Memuji dikau”, dan “Kurma.” Perkataan Tuhan dipakai dalam pengertian tertentu keagamaan tidak lagi dcampur baurdengan dewa-dewa dari agama hindu. Konon yang menggerakan Amir membuat sajak-sajak Nyayiian Sunyi adalah kejadian yang mengguncangkan jiwanya, diharuskan kawin dengan anak Sultan Langkat yang selama itu membiayanya, sedangkan ia sudah jatuh hati pada gadis lain. Ddalam pergolakan batinnya ia mencarii jawab dalam kesunyian yang diianggapnya.

            Didalam sunyi itulah Amir bersoal menjawab dengan waktu, dengan dirinya, dengan tuhan, memikirkan soal-aoal rahasia hidup.

Hanya Aku

Hanyut aku, kekasihku !

Hanyut aku !

ulurkan tanganmu, tolong aku.

Sunyiny sekelilingku!

Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati,

tiada air menolak ngelak.

……….                                                                                                                    

            Ketika kita selesai membaca puisi di atas maka dapat kita tangkap suatu kebmbangan dala diri Amir Hamzah yang seolah hanyut tanpa ada yang menolong dan tanpa ada upaya. Terasa begitu pasrah. Pantaslah bila Amir Hamzah dikatakan penyair yang relgius, karena baik dalam kumpulan pusinya Buah Rindu dan Nyanyian Sunyi selalu melibatkan Tuhan didalamnya, seperti

Karena Kasihmu

Karena Kaihmu

engkau tentukan waktu

sehari lima kali kita bertemu

Aku anginkan rupamu

kulebih sekali

sebelum cuaca menal sutera

…………….

Puisi diatas dapat kita terka mengenai keinsyafan pada sebuah doa dalam ibadah shalat. tentang sebuah permintaan dan pengharapan kepada Tuhan.

            Dibandingkan dengan kumpulan puisi Amir yaitu Buah Rindu, nampak lebih matang Nyanyian Sunyi yang ditulis dalam satu suasana kejadian yang dialami penyair yang memaksanya mencari maknanya hidup ke kitab suci dan sejarah dan memaksanya masuk meninjau kedalam diri, malah menyadari diri dari luar dan menempatkannya dalam hubungan alam kejadian. Begitulah Amir Hamzah, Raja Pujangga Baru yang mendalami benar arti kehidupannya dengan Tuhan.

Daftar Pustaka

Amir Hamzah. 2008Nyanyi Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.

H.B. Jassin. 1996. Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru. Jakarta: PT Gramedia Wididasarana Indonesia

 

 

 

 

Akar Berpilin Milik Gus Tf

            Gus tf  lahir 13 Agustus 1965 di Payakumbuh Sumatera Barat. Kolektor dan pekerja puisi. Akar Berpilin adalah buku puisinya yang ke-3 setelah Sangkar Daging (Garsindo, 1997) dan Dagng Akar (Penerbit buku Kompas, 2005).

            Akar berpilin adalah salah satu bentuk atau jenis ukiran di Minang Kabau. Seluruh ukiran Minang kabau yang kemudian menjadi ragam hias yang perkembangannya antara lain sangat terlihat dalam sulaman atau bordiran, berasal dari ukiran yang terdapat diseluruh bagian bangunan yang menghiasi rumah gadang, rumah adat minang kabau.

Mata Cangkul

Cangkullh aku.” Rindu jadi lebam, setiap kali pulang

ke curam Tubuhmu. Dalam dada pohon Cemara, hijau berayun

desan napasku. Musim tanammu, Adam, “Cangkullah aku.”

Tak tanah tak lumpur, tak gembur: ladangmu juga

…………………..

…………………..

2005

Tiga Kata suci

Aku kini tahu, kenapa “menguap” kata sucimu. Bila

kau biar getir mendidih, meletup hilang si gugu sediih.

Aku kini tahu kenapa “mengendap” kata sucimu. Bila  sekam dendam, tinggal lepah jerami diam

aku kini tahu, kenapa “meresap” kata sucimu. Bila

Kautepis tepuk tepis, menyesak naik si ceguk tangis

Saat membaca kumpulan puisi dalam buku ini maka kita seolah dibawa kea lam pikiran penulis yang melayang-layang, tentang ke sebuah kehidupan yang bermacam-macam, seperti cerita Adam dan Hawa dalm puisi “Mata Cangkul”, dan bentuk kekecewan dalam pusi Tiga kata Suci.

            Dalam kumpulan pusi inipun kita akan menemukansebuah puisi yang sanagat menarik dan berbeda dari puisi-puis lainnya yang berjudul Sepuluh Dialog Tubuh dalam puisi ini seolah tubuh berdialog dalam 10 bait puisi yang memvisualkan dialog yang diilakukan dalam organ tubuh kita. Puisi ini sangat menarik karena setap dialognya berbeda lembaran, jadi perdialog menggunakan satu lembar halaman dan hanya berisi dua baris kalimat, namun antara satu dialog dan yang lainnya saling berterkaitan dari dialog 1 sampai dialog 10.

            Kumpulan puisi milik Gus tf ni sangat member imajinasi yang kuat bagi pembaca dan penikmat puisi khususnya. Puisi yang ditulis Gus dalam rentang waktu dari tahun 2001-2007 ini member nuansa bary bagii penikmat puisiyang berisi 38 puisi didalamnya.

 

Daftar Pustaka

Gus Tf. Akar Berpilin. 2009. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mencium Puisi Joko Pinurbo

            Kepada cium adalah buku kumpulan puisi Joko Pinurbo yang lahir pda 11 Mei 1962. Ia menamatlan studi jurusan Pendidikn bahasa dan Sastra Indonesia Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (sekarang Sanata Dharma), Yogyakarta.

Dalam kumpulan puisinya kepada Cium, Joko Pinurbo banyak menggunakan kata-kata yang tidak asing, yaitu bahasa sehari-hari yang lazim diguanakan dalamberkomunikasi, seperti pada kutipan puisinya Harga Duit Turun Lagi

Mengapa bulan di jendela makin lama

makin redup sinarnya

karena kehabisan minyak dan energy

mimpi semakin mahal,

hari esok semakin tak terbeli.

……………..

atau

 

Layang-layang Ungu

Celana ungu pemberian kakekku kugubah

menjadi laying-layang; kulepas ia di malam terang

Terbang, terbanglah layang-layangku, celanaku

mencium harum bulan: ranum bayi

yang masiih disayang waktu;menjangkau relung bunda senja

            Puisinya sangat aktif dan begitu enerjik, mencampur baurkan bahasa sehari-har idengan sedikit kiasan, namun maknanya dapat tetap tertangkap dengan mudah. sedikit nyeleneh dan interaktif dalam menyampaikan kata-kata. Tapi buakan berarti puisinya hanya meulu itu, dalam puisinya yang berjudul Magrib Dapat kita temui perbedaan

Di bawah alismu hujan berteduh.

Di merah matamu senja berlabuh

            Puisi pendek yang singkat, hanya dua baris dalam satu bait dan menggunakan kata-kata yang indah namun tetap sederhana, tidak ada kata yang nyeleneh seperti contoh puisi sebelumnya.

Puisi yang satu ragam denagn puisi tersebut seperti Ranjang Kecil

Tubuhmu tak punya lagi ruang

ketika relungmu menghembus raung.

            Tetap sederhana, dua baris dan menarik, itulah keistimewaan dari puisi Joko Pinurbo ini.

Joko Pinurbo banyak meneirma berbagai penghargaan dari puisi-puisi karyanya. seperti penghargaan puisi terbaik jurnal puisi 2001, Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan lain sebagainya.

 

Daftar Pustaka

Joko Pinurbo. Kepada Cium. 2007. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

 

 

 

 

 

Tentang Tubuh Dan Kematian

            Teka–teki tentang tubuh dan kematian adalah antologi puis idari delapan penyair muda, Bernad Batu Bara; Dea Anugrah; Eko Putra; Galih Pandu Adi; Pringadi Abdi Surya; Rozi Kembara, Syaiful Bahri, Steven Kurniwan yang masing-masing dari mereka adalah para penyair muda yang memiliki berbagai prestasi dibidang sastra dan puisi khususnya.

            Dalam antologi Puisi ni para penyair sanagat apik mengemas kata-kata dan jalinan bahasa, keseluruhan mereka rata-rata memakai tema yang sama yatu cinta, namun tiidak melulu cinta, banyak lagi yang lannya sepert kenangan, penghayatan tentang kehdupan dan seperti judulnya yang iingin membuka teka-teki tubuh dan kehidupan. seperti dapat kit abaca dalam kutiapan pusi karya Dea Anugrah yang berjudul Kalau Kau ingin mengerti

Kalau kau ingin mengerti

bagaimana aku mencintaimu

berpalinglah

Dari daun-daun gugur dan gerimis yang menari

sekedar

dalam sajak sajak sapardi

……

atau puisi karya Eko Putra Getaran Hujan

Kepada Orin

bagai getaran hujan

yangmelenyapkan

sebuah janjiku kepadamu

rasa dingin begitu sulit ku tejemahkan. walau kau beri

aku selusin selimuut menutupi

sekujur tubuhku yang gigil.

……

……

            Kutipan puisi yang berlatar belakang dari cinta yang dibuat oleh Dea anugrah dan Eko Putra disampng puisi ini terdapat berbagai puisi lain yang sangat indah dan dapat membawa pembaca menerawang jauh terutama tentang perihal cinta yang banyak dbicarakan dalam antologi puisi ini. Salah stu puisi yang bertema perpsahan seperti yang ditulis oleh Rozi Kembara

Usai Sebuah Bom Meledak Dalam Mimpi Kami

Upacara kepulangan kami rayakan dengan sebait doa kelabu yang kami suling dari tumpukan kemarau.

Tiada wangi kembang, ataupun rasa kehilangan yang menggali lambung Samudera. Ataupun belasungkawa

yang berdenyut kencang di nadi hari.

            Begitulah salah satu kutipan puisi milik Rozi Kembara. Yang menggambarkan kehilangan orang tersayang yang dikemas dalam bahasanya.Keliahaian penyair muda dalam antologi puisi ini tidak diragukan lagi. Karya-karya mereka banyak dipublikasikan seperti di berbagai media cetak dan lain sebagainya.

Daftar Pustaka

Bernard Batubara dkk. 2010. Teka-Teki Tentang Tubuh dan Kematian. Yogyakarta: Indie Book Corner.

 

 

 

 

Evi Pengantin yang Sepi

            Pengantin Sepi adalah kumpulan puisi Evi Idawati ditengah langkanya penyair wanita dalam sejarah sastra Indonesia karena kedudukan dan peran perempuan kita dalam masyarakat nyatanya lebih dianggap berada pada kelas dua. feminsme adalah bentuk kekuatan perempuan dalam mensejajarkan atau tidak ingin dibedakan haknya dengan laki-laki. Maka Evi nampaknya lahir dar pemahaman tersebut. Tap puisi Evi bukan hanya tentang perempuan, Evi hanya ingin meneriakan atau mengungkapkan apa yang iia rasakan lewat puisi, menceritakan tentang perasaan perempuan kala ini seperti dalam puisinya.

Sunyi Tumbuh di Rahimku

Aku mencitai rembulan

yang hidup di matamu

dan sunyi yang tumbuh dirahimku

angin mengiring air mata

menetes tumbuh di ranjang bisu

tempat engkau dan aku mengukir diri

…..

 Diantara Dua Laki-Laki

diantara dua laki-laki

aku duduk menatap matahari

……..

            Puisi Evi bener-benar memposisikan wanita didalamnya. Seperi puisi “Sunyi tumbuh di Rahimku”, dan “diantara dua laki-laki”, hal ini dapat dilihat Rahim hanya dimiliki oleh perempuan dan perempuan diantara dua laki-laki. Bukan hanya puisi tersebut yang menempatkan perempuan sebagai subyeknya juga ada dalam puisi “Pengantin Sepi”,”Rahim Tertikam’, “Sebagai Bulan” dan lain sebagainya. Evi meneriakan hati perempuan yang kadang hanya dipandang sebelah mata.

            Namun sebagian besar sajak Evi yang terhimpun dalam antologi ini agaknya kurang tepat bila disebut sebagai pembrontakan jiwa perempuan pada tradisi-tradisi yang sudah ada, Evi hanya terkesan ingin menulis puisi sesuai dengan hati tanpa adanya keinginan dianggap depan oleh tradiisi yang selalu menempatkan perempuan di garis belakang. Tapi terlepas dari apapun, Evi mampu menunjukan bahwa perempuan tidak lemah dan dapat berkarya layaknya laki-laki. Tidak ada istilah perempuan harus selalu ada digars belakang. Perempuan Indonesia mampu berkarya dan jangan di pandang sebelah mata saja.

            Evi Idawati yang lahir di Demak, 9 Desember 1973. Menulis cerpen, puisi dan esai di berbagai meda msa. Aktris teater dan sinetron, juga menulis scenario. Puluhan kali pentas teater modern. Dan masih banyak prestasi lainnya.

 

Daftar Pustaka

Evi Idawati. 2002. Pengantin Sepi. Yogyakarta: MOESTIKAWACANA

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

AUBADE Rachmat Djoko Pradopo

            AUBADE adalah kumpulan puisi karya Rachmat Djoko Pradopo yang ia tulis sejak awal tahun 1960-an.

            Dalam puisi Rachmat Djoko Pradopo ini menggunakan bahasa yang sederhana, dan penuh majinatif, memuji alam, menggambarkan keadaan seperti dapat kit abaca pada kutipan puisi

Di Cerlang Matamu

Di cerlang matamu

kulihat pagi bangkit berseri

mencairkan kembali hidupku yang beku

wahai, merdunya burung berkicau

meloncat-loncat dar dahan ke dahan

bernyanyi sorak sorai dalam hatiku

1967

            Juga dalam puisi lainnya seperti “Ada Saat-saat”, ‘Di Pegunungan”, “Pesona”, dan lain sebagainya menggunakan kalimat-kalimat sederhana. Puisi-puisi dalam buku ini menggambarkan suasana alam yang penyair visualkan dalam katakatanya seperti “ angin hijau”, “kicau burung dalam nyanyiannya”, “matahari pagi” dan lain sebagainya. Puisi Rachmat Djoko Pradopo ini tergolong unik, ketika kita membaca sebuah judul Nina Bobok, didalamnya Joko seolah menidurkan gelombang taip yang dmaksud gelombang disinlah adalah pikiran. Lewat bahasa yang lugas dan sederhana Rachmat Djoko Pradobo seperti memberikan energy tersendri bagi buku kumpulan puisinya ini. Dalam kumpulan puisinya iin juga tidak hanya membicarakan alam, tapi juga memuji penciptanya sepert yang terdapat pada kutipan puisi Sujud

dan apa yang kami bisa adalah

susjud pada kaki kebesaran-Mu

yang tegak dimana-mana

meski keberadaan kami tak bisa

Menggapai keberadaan-Mu yang tak kasat mata.

1994

            Bukan hanya puisi itu saja yang membicarakan Tuhan ada pula puisinya yang berjudul “Doa”, yang berisikan doa kepada tuhan dengan penuh penyerahan dapat tergambar dalam

kata demi doa telah di ucapkan

semoga doaku sampai pada-Mu

Amin!

            Puisinyapun ada pula yang menceritakan seuatu tempat Yang dimajinasikan Begitu indah Lewat Kata-Katanya Seperti Puisi Pasar Kembang, Bunaken dan Sumba.

            Sedangkan AUBADE sendiri adalah salah satu puisi dalam buku ini yang menjad judul besar menceritakan tentang sorak-sorai alam dan bernuansa pagi seperti “kenanga”, “cempaka”, “burung pipit”, “kupu-kupu”, burung bunga dan hutan dipilih menjadi kalimat dalam pusi ini.

Daftar Pustaka

Rachmat Djoko Pradopo. 1999. AUBADE. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

 

 

 

 

 

Mengintip Sapardi

Aku Ingin

Aku Ingin Mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada apii yang menjadikannya abu

Aku ingn mencintaimu dengan sederhana:

 dengan isyarata yang tak sempat diisampaikan

 awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

            Siapa yang tidak tahu puisi tersebut, puisi yang seolah sekarang menjadi tren dikalangan anak muda, khususnya penggiat sastra pastilah tahu puisi ini. Banyak orang memuji Sapardi setelah membaca puisi ini. “Romantis” itulah kata yang akan keluar setelah orang membaca puisi ini, memang puisi yang berjudul aku ingin seolah mempunyai jiwa tersendiri dan ditulis dengan tulus oleh Sapardi, sebuah bentuk keikhlasan yang ada salam puisinya yang sarat makna terutama mengenaii hal yang bernama cinta. Menelaah lebih lanjut tentang puisi Sapardi dalam buku kumpulan puisi Hujan di Bulan Juni  kita akan tambah terkagum membaca puisi-puisi Spardi yang lainnya seperti puisi Dalam Sakit, Jarak, sepasang sepatu tua, bola lampum pada suatu pagi Hari dan tentunya Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah dar hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

………

            Puisi Sapardi menggunakan kata-kata yang sederhana, tapi sangat bermakna dan maknanya tersembunyi atau tersirat dan perlu dihaya

 

 

seperti  juga dapat kita lihat kutipan puisi Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti jasadku tak aka nada lagi

 tapi dalam bait-bait sajak ini kau tak kan ku relakan sendiri

……

            Tidak jauh beda dengan model pusinya yang berjudul Aku Ingin, hal memperjelas bahwa Sapardi lebih senang mengungkapkan maksud dalam puisinya lewat kata-kata yang begitu apik ia kemas dan benar-benar tersembunyi. Pantaslah bila Sapardi sanagat banyak dikagumi para pecinta puisi. Dalam kumpulan buku pusi ini memuat 96 pusisi antara tahun 1964 sampai 1994.

Boigrafi singkat Sapardi

            Sapardi Djoko Damono dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1940. Puisi-puisi pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak 1975 dan pernah aktif sebagai redaktur majalah sastra-budaya Basis, Horison, Kalam, Tenggara (Malaysia) ini adalah: Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000). Sedangkan karya-karya sastra dunia yang diterjemahkannya: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988; Okot p’Bitek).

Daftar isi

Sapardi Djoko Damono. 2003. Hujan Bulan Juni. Jakarta: Grasindo.

 

 

 

 

 

Surat Cinta yang Panjang Lebar

            Buku puisi yang berjudul Surat Cinta Enday Rasidin adalah  puisi karya Ajip Rosidin. yang memuat 36. Puisi dalam buku ini dituangkan secara panjang lebar, disaat para penyair sedang senang memproduksi puisi yang singkat yang misal hanya terdiri dari satu bait dan baris yang sangat sedikit yang bahkan hanya satu baris, maka lain dengan puisi yang dibuat Ajip, dalam kumpulan puiisinya.Puisi yang berjudul Nyanyian Pensiunan sangatlah panjang yang terdiri dari 14 bait yang masing-masing mempunyai rata-rata tiga bars didalamnya. Bukan hanya itu puisi inipun dibagi menjadi lima babak dengan sering mengulang kata “Mayat” yang menggambarkan keadaan yang rusuh pada zamannya.

            Bukan hanya puisi Nyantian Pensiun yang sangat panjang dan dibag dalam babak puisi lain seperti Nyanyian Para Petani Jatiwangi, Lagu duka masa kini, Tamu malam, Nyantian Mahdapi. Puisi yang dijadika juduk dalam buku iini yaitu Surat Cinta Enday Rasidin juga sangat panjang terdiri dari delapan bait dan 29 baris berisi tentang perjuangan kebersamaan seperti dalam baris kata “kita telah jalan beriringan dengan pantolan yang digulung hingga lutut, Berperinci miring dan Sapu tangan bersulam biru”

Biografi Ajip Rosidin

            Ajip mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastera, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastra Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik.

            Sejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan Hadiah Sastera Rancagé setiap yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

            Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda

Penghargaan

*                   Hadiah Sastera Nasional 1955-1956 untuk puisi (diberikan tahun 1957) dan 1957-1958 untuk prosa (diberikan tahun 1960).

*                   Hadiah Seni dari Pemerintah RI 1993.

*                   Kun Santo Zui Ho Sho (“Bintang Jasa Khazanah Suci, Sinar Emas dengan Selempang Leher”) dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang 1999

*                   Anugerah Hamengku Buwono IX 2008 untuk berbagai sumbangan positifnya bagi masyarakat Indonesia di bidang sastera dan budaya.

Karya-karyanya

Ada ratusan karya Ajip. Beberapa di antaranya

*                   Tahun-tahun Kematian (kumpulan cerpen, 1955)

*                   Ketemu di Jalan (kumpulan sajak bersama SM Ardan dan Sobron Aidit, 1956)

*                   Pesta (kumpulan sajak, 1956)

*                   Di Tengah Keluarga (kumpulan cerpen, 1956)

*                   Sebuah Rumah buat Haritua (kumpulan cerpen, 1957)

*                   Perjalanan Penganten (roman, 1958, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis         oleh H. Chambert-Loir, 1976; Kroatia, 1978, dan Jepang oleh T. Kasuya, 1991)

*                   Cari Muatan (kumpulan sajak, 1959)

*                   Membicarakan Cerita Pendek Indonesia (1959)

*                   Surat Cinta Enday Rasidin (kumpulan sajak, 1960);  dan lain sebagainya.

*                    

*                   Daftar Pustaka

Ajip Rasdin. 2002. Surat Cinta Enday Rasidin. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

F:\Ajip_Rosidi.htm

Balada Si Burung Camar

Balada Orang-orang Tercinta adalah kumpulan puisi Rendra yang berisi 19 puisi. Willibrordus Surendra atau yang lebih dikenal dengan W.S. Rendra dilahirkan di Surakarta pada tanggal 7 November 1935. Dia adalah penyair perode 1953-1961 dalam sejarah sastra Indonesia.

Puisi balada adalah puisi yang bercerita tentang kepahlawanan seseorang, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatianPuisi-puisi balada W.S. Rendra di antaranya, Balada Sumilah, Balada terbunuhnya Atmo Karpo, dan masih banyak lagi.

Kumpulan sajaknya Balada Orang-Orang yang Tercinta, mengisahkan orang-orang yang tersisih, seperti perampok, pembunuh, pelacur, perempuan kesepian, ibu yang rindu anaknya, dan lain sebagainya.

Rendra si Burung Camar, dikenal sebagai penulis puisi-puisi balada. Salah satu puisi balada karya Rendra yang cukup populer adalah puisi Balada Terbunuhnya Atmo Karpo. Berikut kutipan puisi tersebut.

BALADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi

bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-

pucuk para

mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang

diburu

Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjan


Segenap warga desa mengepung
hutan itu

dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo

mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang

berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri


Satu demi satu yang maju tersadap darahnya

penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka


- Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa

Majulah Joko Pandan! Di mana ia?

Majulah ia, kerna padanya seorang kukandung dosa


Anak panah empat
arah dan musuh tiga silang

Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang


- Joko Pandan! Di mana ia!

Hanya padanya seorang kukandung dosa


Bedah perutnya tapi masih
setan ia

Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala


Joko Pandan! Di mana ia!

Hanya padanya seorang kukandung dosa


Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan

segala menyibak bagi derapnya kuda hitam

ridla dada bagi derunya dendam yang tiba


Pada langkah pertama keduanya sama
baja

Pada langkah ketiga rubuhnya Atmo Karpo

Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka


Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka

Pesta bulan, sorak sorai, anggur darah


Joko Pandan menegak, menjilat darah di
pedang

Ia telah membunuh bapaknya

            Dalam puisi tersebut tergambar sebuah kisah pertumpahan darah antara ayah (Atmo Karpo) dan anaknya (Joko Pandan). Kisah ayah yang dibunuh oleh anaknya sendiri menjadi cerminan realitas kehidupan sesungguhnya. Sekarang ini, banyak peristiwa nyata yang sama dengan apa yang digambarkan Rendra dalam puisi tersebut.

            Puisi lainnya seperti Ballada Anita, Perempuan sial, Ballada gadis Jamil si Jagoan menceritakan balada perempuan yang tangguh yag rRendra ciptakan dalam karyanya. Rendra bukan hanya sekedar jagonya menulis puisi cinta tapi Rendra juga mampu membangkitkan segala rasa seperti nasionalisme, kearifan lokal dan lain sebagainya seperti Puisinya Sebatang Lisong tapi puisi tersebut tidak dimuat dalam Buku ini.

 Biografi Rendra

            Rendradilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Sepulang memperdalam pengetahuan drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ditahan Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta (1956; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjalanan Bu Aminah (1997), Mencari Bapak (1997). Buku-buku puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Indonesian Poet in New York (1971; diterjemahkan Harry Aveling, et.al.), Rendra: Ballads and Blues (1974; Harry Aveling, et.al.), Contemporary Indonesian Poetry (1975; diterjemahkan Harry Aveling). Ia pun menerjemahkan karya-karya drama klasik dunia, yaitu: Oidipus Sang Raja (1976), Oidipus di Kolonus (1976), Antigone (1976), ketiganya karya Sophocles, Informan (1968; Bertolt Brecht), SLA (1970; Arnold Pearl). Pada 1970, Pemerintah RI memberinya Anugerah Seni, dan lima tahun setelah itu, ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta.

 

Daftar Pustaka

Rendra. 2000. Ballada Orang-orang Tercinta. Jakarta: Pustaka Jaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membaca Buku Harian Subagio Sastrowardoyo

Buku Harianini terdiri dari 41 sajak jarya Subagio Sastrowardoyo yang ia tulis saat ia berada dibeberapa tempat Leiden, Paris dan  Leeuwarden, dan buku ini juga terdiri dari 2 kumpulan sajak, Buku Harian sendiri dan Sajak Sejenak. Dalam Sajak Sejenak ia menceritakan Indonesia. Pada bagian pertama, yakni bagian Buku Harian, puisi yang sisajikan berupa puisi pendek. Dan terdiri dari 3 judul, yaitu Leiden, Paris, dan Leeuwarden. Pada puisi bagian kedua, puisi-puisi yang disajikan berupa puisi panjang, misalnya saja puisi yang berjudul Hari dan Hara yang mencapai 4 lembar. Yang dahsyat dari Buku Harian, adalah menggambarkan perasaan seseorang yang jauh dari “rumah” dengan begitu indah. Ada rasa sunyi. Ada rasa getir. Ada setangkup rindu. Ada rasa pilu. Ada nuansa murung. Semuanya dirangkum dalam kumpulan puisi dengan judul yang agak unik, nama tempat, tanggal dan terkadang juga dicantumkan detail jam.

Dalam Buku Harian di beberapa sajaknya, Soebagio Sastrowardoyo juga sudah menggunakan kata-kata asing, misalnya saja dalan sajak yang berjudul LEIDEN 30/10/78 (MALAM pk. 20.15). Tidak hanya itu saja, setting dalam sajaknya sebagian besar juga diluar negeri.

Pernah ada yang menulis bahwa puisi-puisi Soebagio Sastrowardoyo digerakkan oleh kegelisahan metafisik. Puisi ini berbicara tentang kesia-siaan, tujuan hidup yang tidak jelas, kesepian, kesakitan, cinta yang penuh rindu, hidup dan kematian, keterasingan atau keakraban. Semua hal yang muncul dari pergaulan seseorang dengan alam: matahari, malam,laut, angin, awan, derai-derai pohon ataupun hamparan padang pasir yang gersang.

Biografi Singkat

Subagio Sastrowardoyodilahirkan di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924, dan meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995. Peraih M.A. dari Departement of Comparative Literature, Yale University, Amerika Serikat ini pernah mengajar di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM, SESKOAD Bandung, Salisbury Teachers College, dan Flinders University, Australia. Cerpennya, “Kejantanan di Sumbing” dan puisinya, “Dan Kematian Makin Akrab”, masing-masing meraih penghargaan majalah Kisah dan Horison. Kumpulan puisinya, Daerah Perbatasan membawanya menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1971), sementara Sastra Hindia Belanda dan Kita mendapat Hadiah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta, dan bukunya yang lain, Simfoni Dua, mengantarkannya ke Kerajaan Thailand, menerima Anugerah SEA Write Award. Karya-karyanya yang berupa puisi, esai, dan kritik, diterbitkan dalam: Simphoni (1957), Kejantanan di Sumbing (1965), Daerah Perbatasan (1970), Bakat Alam dan Intelektualisme (1972), Keroncong Motinggo (1975), Buku Harian (1979), Sosok Pribadi dalam Sajak (1980), Hari dan Hara (1979), Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan (1992), Dan Kematian Makin Akrab (1995).

Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi. Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta. Tentang kepenyairannya itu, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa sajak-sajak Subagio adalah sajak rendah. Puisinya seolah-olah dicatat dari gumam. Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya. Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam. Itulah paling tidak sebagian dari karakter kepenyairan Subagio Sastrowardoyo.

Daftar Pustaka

Subagio Sastrowardoyo. 1979. Buku Harian. Jakarta: MTRA SRANGENE

v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

Normal
0
false

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

Amir Hamzah dalam Buah Kerinduanya

            Buah Rindu berisi kumpulan puisi raja Pujangga Baru Amir Hamzah, yang dilahirkan tanggal 28 Februari 1911 dari kalangan bangsawan Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara. Kapan meninggalnya, beberapa waktu tidak ada yang tahu pasti. Adalah suatu sindiran nasib bahwa penyair yang yang demikian perasa telah diakhiri hidupnya dengan kekerasan senjata di Jaman pergerakan revolusi sosial di Sumatera Utara . Diangkut oleh pemuda tanggal 3 Maret 1946 malam bersama keluarga Sultan dan orang-orang besarnaya kemudian dipancung tanpa periksa di Kuala Binggai.

            Buah Rindu memuat 25 sajak, satu diantaranya terdiri dari empat bagian dan satu terdiri dari dua bagian. Kumpulan ini ditandai dengan kata-kata seperti “iba”, “menangis”, “duka”, “sendu”, “merana”, “rindu”, “airmata”, dan sebagainya. Kata-kata yang menyatakan perasaan kesedihan dan kemeranaan. Lain-lain perkataan yang menunjukan kepada sifat dan suasana jiwanya ialah “kelana”, merantau”, ‘cinta”, “asmara”, ratap, “sayu”, “rayu”, dan sebagianya. “Wahai” dan “yuhai” dipergunakan sebagai serua sedih, pun dalam menyeru kekasih. Oleh banyaknya kata ini kita mendapat kesan ketidakseimbangan jiwa penyair, ketidakseimbangan yang juga ditemukan dalam salah satu bait puisinya puisinya seperti:

Berdiri aku

Dalam rupa maha sempurna

Rindu-sendu mengharu kalbu

Ingin datang merasa sentosa

Menyecap hidup tertentu tuju.

            Kata Rindu nampun menjadi sendu seolah mengisyaratkan hati penyair yang tidak menentu dipertegas dengan baris mengharu kalbu semkkin tergambarlah kegalauan hati penyair yang juga muncul di puisi-puisi lain seperti :

Buah Tindu II

Datanglah engkau wahai maut

Lepaskan Aku dar nestapa

Engkau lagi tempatku berpaut

Di waktu gelap ini gulita.

            Penyair seolah hanya berayun diatas rasa, setiap yang mengena indranya adalah penggerak kesedihan dalam jiwanya.

Amir Hamzah seorang Penyair Romantis

            Dalam kumpulan puisi Buah Rindu dapat kita temukan sebuah puisi yang berjudul Harum Rambutmu yang salah satunya berisi begini

Harum rambutmu serasa  ada

Dalam bunga duduk bersembunyi

Suma mana ratna mulia

Kanda sibuk tengah mencari

            ada pula puisi yang berjudul Purnama Raya yang salah satunya berisi

Purnama raya

Bulan bercahaya

Amat cuca

Ke Mayapada

            Dalam pemilihan katanya tersirat makna mendalam dan berkias menunjukan suatu rasa yang disusun dengan apik dalam kata-kata yang indah hingga berkesan romantis. Tepatlah jika dikatakan bahwa Amir Hamzah adalah seorang penyair yang romantis, sangat berbeda bila kita bandingkan dengan kumpuln puisi Charil Anwar yang kebanyakan memakai kata-kata yang tidak banyak basa basi dan langsung pada pokok inti dan maksud dari puisinya seperti dalam puisi Diponegoro, Karaang Bekasi, Aku dan lain sebaginya.

Puisi Amir Hamzah Tidak Bertanggal

            Sangat disayangkan bahwa puisi-puisi Amir Hamzah tidak bertanggal, seperti biasa para penyair tidak menanggali buah ciptaannya. Kita hanya dapat mengira-ngira urutan kronologisnyadari urutan pemuatannya dalam majalah, surat kabar atau penerbitan sebuah buku. Bagi orang luar adanya penanggalan dapat memudahkan menggali lebih dalam sisi kehidupan penyair dan isi puisinya. Tapi bagi penyaiir memang apalah arti waktu, jam berapa dan tempat di mana, yang pentng baginya aialah penngalaman batin yang dapat dituangkan dalam segala kepenuhannya.

Daftar Pustaka

Amir Hamzah. Buah Rindu. 1996.  Jakarta: Dian Rakyat.

H.B. Jassin. 1996 Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru. Jakarta: PT Gramedia Wididasarana Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abad Yang Berlari  Bersama Dada Afrizal Malna

            Abad yang Berlari. Lewat kumpulan sajak inilah 25 tahun yang lalu Afizal Malna menapakkan kakinya dengan kokoh di dunia sastra Indonesia. Karya yang diterbitkan pertamakali di tahun 1984 ini, memberi pengaruh yang cukup luas bagi perkembangan sastra kita. Maka tidak mengherankan jika pada waktu itu buku ini mendapat Hadiah Buku Sastra Dewan Kesenian Jakarta.

            Abad yang berlari adaalah salah satu kumpulan puisi seorang Afrizal Malna Afrizal Malna yang Lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Pendidikan akhir Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (tidak selesai) yang terbit pada tahun 1984, sekarang diterbitkan kembali oleh penertbit Omahsore 2009.

            Dalam Kumpulan pusi Abad Yang Berlari ini yang menarik pada puisinya kali ini Afrizal banyak menggunakan kata-kata anggota tubuh didalamnya, seperti “dada” yang ada dalam judul puisinya.

Dalam kumpulan puisi Abad Yang Berlari, kita akan menemukan puisi berjudul “dada” yang salah satu baitnya berisi begini:

Dada

Sehari. Waktu tidak menanam apa-apa, dada. Hanya hidup,

 hanya hidup membaca diri sendiri; seperti anakanak membaca, seperti anak-anak bertanya. Menulis, dada. Menulis kenapa harus menulis, bagaimana harus menulis, bagaimana harus ditulis. Orang-orang menjauh dari setiap yang bergerak, dada;

seperti menakuti setiap yang dibaca dan ditulisnya sendiri. Membaca jadi mengapa mebaca. Menulis jadi mengapa menulis.

1983

                         Dalam bait puisi diatas “dada” disebut sebanyak tiga kali, dalam isi puisi diatas dada bukan dimaksudkan terhadap salah satu organ manusia, namun disini Afrizal Malna menjadikan “dada” sebagai objek yang hidup yang mampu bekerja seperti manusia, dimana si “dada” mampu menulis.

Dalam puisi Afrizal Malna juga masih terdapat kata-kata mengenai “dada”, seperti salah satu bait puisiinya yang berjudul

Jam Malam

“Semua jalan jadi salah bagi dadaku”

Sama halnya seperti isi puisi sebelumnya, dada disini menjadi subjek, sesuatu yang hidup. Dalam kumpulan puisi Abad Yang Berlari Afrizal Malna melakukan banyak sekali eksplorasi semacam itu. Jadi semacam terjadi proses totalisasi yang berpusat pada subjek dalam puisi Afrizal Malna, tempat segala objek menjadi subjek, ekspresi suasana hati manusia. Di situ kita menyaksikan sebuah personifikasi subjek, sebuah antroposentrisme (faruk:150). Kumpulan puisi Abad Yang Berlari menampung banyak sekali diksi “dada” mulai dari puisi yang berjudul “dada”, “tanah dada”, sampai “dia hanya dada”. Nampaknya Afrizal Malna begitu terpesona pada dada hingga ia enggan untuk berjauhan dari dada.

Ternyata dalam buku kumpulan puisi Afrizal malna dalam Abad Yang Berlari  tidak hanya menyebut-nyebut dada sebagai Objek maupun Subjek. Metafor lain yang ia gunakan ialah “Televisi” ini menjadi unik karena seperti yang kita ketahui puisi sekarang menjadi sebuah kebutuhan manusia yang primer, berbeda dengan pada era 80an, dimana televisi menjadi benda yang mahal dan langka. Televisi seperti merenggut sebagian besar perhatian manusia, manusia tidak lagi berpikir nama, tidak lagi berpikir tempat. Semua telah terenggut televisi. Atau juga dalam puisi “chanel 00” yang sangat pendek,begini bunyinya:

Chanel 00

            Sebentar.

            Saya sedang bunuh diri.

            Teruslah mengaji dalam televisi berdarah itu, bunga.

            1983

            Puisi yang pendek dan unik yang menjadikan Televisi sebagai Subjek dalam puisinya ini. Masih terdapat metafor lain dalam kumpulan puisi Afrizal Malna ini seperti kata “Palu” dalam puisinya yang berjudul

Abad yang berlari . Dan uniknya lagi, “dada”, “palu” selalu dikombinasikan dengan waktu. Nampaknya afrizal hendak menyampaikan bahwasanya waktu dalam dada sama dengan palu yang memukul-mukul, saling berdampngan untuk memukul-mukul yang diartikan sebagai kehidupan.

 

Daftar Pustaka

Afrizal Malna. 2009. Abad Yang Berlari. Yogyakarta: Omahsore.

Anonim . 2010 “AFRIZAL MALNA  ODE KAMPUNG DAN KUK BERBEDA “ « Indonesia Literary Community.htm. Diunduh 4 Juni 2010

Anonim. 2010. http://www.omahsore.web.id/2009/04/15/abad-yang-berlari-kumpulan-puisi. Diunduh 22 Juni 2010

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Derai Cemara Chairil

            Chairil Anwar yang lahir di Medan, 26 Juli 1922 dan meninggal pada usia 26 tahun 9 bulan. Dalam kumpulan puisi Derai-derai Cemara yang memuat 75 puisi Chairl Anwar, dua sajak saduran dan beberapa prosa. Di Awali dengan kata pengantar yang dituliis oleh Putri satu-satunya Chairil Anwar yaitu Evawani Alisa Ch. Anwar dengan menyampaikan kenangan tentang ayahnya.

Chairil dalam Puisinya

Dan aku akan lebih tidak peduli

aku mau hidup seribu  tahun lagi

(puisi “Aku”)

Begitulah salah satu isi dari bait puisi yang berjudul “Aku”, Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi. Sangat jauh berbeda ketika kita membaca salah satu puisi Charil yang salah satu baitnya berisi

Hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah

dan tahu, ada yang tidak diucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

(puisi Derai-derai Cemara, 1949)

            Puisi keduanya sangat berbeda, dalam puisi “Aku” Chairil seolah tergambarkan semangatnya yang menggebu-gebu tanpa peduli apa-apa yang ada disekelilingnya, seberapapun susah dan payahnya usaha Chairl yakin hidup adalah sebuah perjuangan dimana ia akan mampu hidup sampai seribu tahun lagi. Bandingkan dengan puisi Derai-derai cemara “Hidup hanya menunda Kekalahan”, hal ini menunjukan dimana Puisi yang serupa dengan puisi Aku yaitu bertemakan perjuangan dan semangat yag berapi-api diantaranya seperti, Diponegoro, Persetujuaan dengan Bung Karno, Prajurit Jaga Malam, Krawang-Bekasi dan lain sebagainya. Sedang yang bernafaskan penyerahan pada sebuah kematian seperti puisi yang berjudul Nisan, Yang terlepas dan yang putus dan sebagainya. Dalam puisi Chairiil pun dapat ditemukan puisi yang berbau religius seperti puisinya Doa, Isa, Di Mesjid dan sebagainya, Puisi-puisi yang bertema percintaan dan kekaguman juga tertuang dalam puisi-puisi Chairl. Hal ini menunjukan  Chairil bukan hanya seorang penyair yang melulu pada sebuah tema, dia seolah mengungkapkan apa saja yang sedang dia rasakan dalam puisinya yag berbahasa bebas. Memang seperti yang kita ketahui sastra angkatan 45 berpijak pada pengalaman hidup nyata, keras dan pahit. Keadaan yang penuh kesulitan ekonomi, politis, social dan budaya menjadi dasar penciptaan sastra angkatn 45 ini, termasuk aliran yang dibawa oleh Chairl Anwar. Ada sebuah pusi dari Chairil yang menarik bagi saya yaitu

Sekeliling dunia bunuh diri! Aku minta adik lagi pada

Ibu dan Bapakku, karena mereka berada

di luar hitungan: Kamar begini,

3 X 4m, terlalu sempit buat meniup nyawa!

(Sebuah Kamar, 1846)

            Puisi ini menunjukan kekecewaan pada dunia, membuat hidup seolah menyiksa seperti yang tertuls ‘3 X 4m, Terlalu sempt buat menup nyawa,” Dalam bait puisi yag terakhir Chairil nampak lebih mendeskriptifkan suasana yang membangun majinasi bagi pembaca dengan gaya seperti obrolan. gaya Deskriptif ini jarang dtemukn dalam pusi-pusinya Charil yang lain.

            Dari segi penataan bahasa dan gaya bahasa, Chairl memang mempunyai gaya sendiri untuk mengeluarkan ekspersi dan aktualisasi dalam pembuatan puisi-puisinya. Tidak terkecuali pada pusi “Sebuah Kamar” ini. Tata Bahasa yang nyeleneh membuat Chairil terkesan buruk dalam segi tata bahasa yang berlaku di Indonesia atau yang diterapkan untuk umum. Dapat diilihat perbedaannya dengan bentuk-bentuk puisi Amir Hamzah yang teriikat satu dengan yang lainnya.Dalam proses penulisannya Chairil seolah tidak pernah mempedulikan sekitarnya, apa yang orang pikirkan terhadap karyanya, namun seiring berjalannya waktu, Chairil mendapat perhatian dari penggemar sastra di Indonesia pada umumnya.

Daftar Pustaka

Chairil Anwar. 2000. Derai-derai Cemara. Jakarta: Departemen Pendidikan Naional.

Taufik Bilang Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

            Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, mungkin inilah yang melatar belakangi seorang penyair Taufik Ismail yang menuangkan segala bentuk kekecewaannya tentang Indonesia di masa Orde baru. Buku kumpulan puisi yang berjudul Malu (aku) jadi orang Indonesia bukanlah buku puisi pertama Taufik Ismail yang berisi protes atau sebuah kekecewaan terhadap pemerintahan Indonesia. Tirani dan Benteng adalah Protes kekecewaan seorang Taufk terhadap Orde Lama. Beberapa Puisi Taufik yang terdapat dalam buku puisi Malu (aku) jadi Orang Indonesia

12 MEI 1998
Empat syuhada berangkat pada suatu
malam, gerimis air mata
tertahan di hari keesokan, telinga kami
lekapkan ke tanah kuburan
dan simaklah itu sedu sedan
Mereka anak muda pengembara tiada
sendiri, mengukir reformasi
karena jemu deformasi, dengarkan saban
hari langkah sahabat-
sahabatmu beribu menderu-deru,
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom
abad duapuluh satu
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi
kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena
kalian berani mengukir
alfabet pertama dari kata reformasi-damai
dengan darah
arteri sendiri,
Merah putih yang setengah tiang ini, merunduk
di bawah garang
matahari tak mampu mengibarkan diri
karena angin lama
bersembunyi,
Tapi peluru logam telah kami patahkan
dalam doa bersama, dan kalian
pahlawan bersih dari dendam, karena jalan
masih jauh
dan kita perlukan peta dari Tuhan

1998
TAKUT 66, TAKUT 98
Mahasiswa takut pada dosen
Dosen takut pada dekan
Dekan takut pada rektor
Rektor takut pada menteri
Menteri takut pada presiden
Presiden takut pada mahasiswa


1998

            Dalam puisi Takut 66, TAKUT 98 Taufik  benar-benar menyajkan sesuatu yang baru yang tidak pernah terfikir sebelumnya, rasa kesenjangan yang terjadi rupanya semua akan berbalik arah, tapi tdak pernah terfikirkan oleh masyarakat sebelumnya.

Buku puisi Malu (Aku) jadi Orang Indonesia (MAJOI) berbeda dengan karya Taufik sebelumnya yaitu Tirani dan Benteng (TB) dalam MAJOI ini Taufik tidak menyeru dan membentak atau berterak-teriak menggunakan slogan-slogan, tapi seperti bertanya dan berfikir tentang apa yang terjadi. Taufik tidak lagi menjadi pemain tunggal, tapi lebih kepada pengamat atau penonton yang kritis pada sebuah tontonannya. Cara ini memmbuat puisinya lebih diskurtif. Gambar visual yang kental telah digantikan imaji yang sangat padat, imajinasi yang dibangun tidak hanya melukis gejala Konkrit, melainkan gejala abstrak dengan bahasa kias. seperti,

Hari depan Indonesia adalah lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian berwarna hitam yang menyala bergantian.

Kembalikan

Indonesia

Padaku

(Kembalikan Indonesia Padaku)

Dalam kutipan puisi tersebut jelas tidak ada penggambaran konkrit, Taufik memakai istilah lampu dalam mengungkapkan keterpurukan bangsa akibat berbagai hal seperti korupsi, kemiskinan, penindasan dan lain sebagainya.

Tentang seorang Taufik Ismail

            Melihat  dari riwayat hidupnya yang berlatar belakang seorang lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963, sekarang Institut Pertanian Bogor) tidak terbayang malah menjadi seorang sastrawan, bahkan penyair yang pandai menulis puisi. Tapi Taufiq yang memang sudah bercita-cita jadi sastrawan sejak masih SMA di Pekalongan, Jawa Tengah. Kala itu, dia sudah mulai menulis sajak yang dimuat di majalah Mimbar Indonesia dan Kisah. Dia memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang suka membaca, sehingga dia sejak kecil sudah suka membaca. Kegemaran membacanya makin terpuaskan, ketika Taufiq menjadi penjaga perpustakaan Pelajar Islam Indonesia Pekalongan. Sambil menjaga perpustakaan, dia pun leluasa melahap karya Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, sampai William Saroyan dan Karl May. Dia tidak hanya membaca buku sastra tetapi juga sejarah, politik, dan agama.

            Kesukaan membacanya, tanpa disadari membuatnya menjadi mudah dan suka menulis. Ketertarikannya pada sastra semakin tumbuh tatkala dia sekolah di SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS. Dia mendapat kesempatan sekolah di situ, berkat beasiswa program pertukaran pelajar American Field Service International Scholarship. Di sana dia mengenal karya Robert Frost, Edgar Allan Poe, Walt Whitman. Dia sanga menyukai novel Hemingway The Old Man and The Sea.

            Namun setelah lulus SMA, Taufiq menggumuli profesi lain untuk mengamankan urusan dapur, seraya dia terus mengasah kemampuannya di bidang sastra. Dia juga kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan Universitas Indonesia di Bogor, lulus 1963. Semula dia berobsesi menjadi pengusaha peternakan untuk menafkahi karir kepenyairannya, namun dengan bekerja di PT Unilever Indonesia, dia bisa memenuhi kebutuhan itu.

 

Daftar Pustaka

Taufik Ismail. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. 1998. Jakarta: Yayasan Ananda

Taufik Ismail. Tirani dan Benteng. 2001. Jakarta: Yayasan Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ungkapan Taufik Untuk Orde Lama dalam Tirani dan Benteng

            Tirani dan Benteng, adalah kumpulan puisi Taufik Ismail yang menggambarkan kekecewaan atau bentuk protesnya terhdap masa Orde lama. Puisi-puisi dalam Tirani dan Benteng ini adalah tulisan Taufik yang baru selesai ia ketik dan nampak oleh Arief Budiman. Dia senang sekali membacanya. Arief langsung mengambilnya, padahal Taufik masih ingin membenahi hasil puisinya. Tapi Arief bersikeras tidak mau mengembalikannya, dan akan segera ia publikasikan. Rupanya tindakan Arief sangat benar. Saat Taufik pulang ke Pekalongan mengambil batik, tasnya hilang. Andai saja puisi itu tidak di ambiil Arief mungkin puisinya pun akan ikut hilang.

Beberapa Puisi yang terdapat dalam Trani dan Benteng

Tiga anak kecil

dalam langkah malu-malu

datang ke Salemba sore itu

‘Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan Bunga

……….

(Tiga anak kecil, 1966)

Sebuah Jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah berbeagi duka yang agung

dalam kepedihan bertahun-tahun

(Sebuah jaket berlumur darah, 1966)

            Taufik benar-benar menggambarkan kepiluan dan kekecewaan yang mendalam didalam puisinya ini, sebuah perjuangan yang telah dilakukan orang-orang di jalan. Bahasanya yang lugas dan lantang menyerukan ketidak adilan di masa itu.

Lapar menyerang desaku

kentang dipanggang kemarau

surat orang kampungku

kugurat kertas

Risau

Lapar lautan pidato

Ranah dipanggang kemarau

ketka berduyun mengemis

kesinikan hatimu

kuiris

lapar di gununng kidul

mayat dipanggang kemarau

berjajar masuk kubur

kauulang jua

kalau

(Syair Orang Lapar, 1964)

            Puisi yang berjudul syair Orang Lapar ini sangat memvisualkan penglihatan Taufik terhadap melaratnya masa pada jaman Orde lama, “Lapar” menjadi kata yang selalu di ulang dalam puisi ini, hal ini jelas menegaskan sangat terpuruknya masyarakat ditengah kemiskinan yang disebut kemarau oleh Taufik, bahkan mayat berjajar masuk kubur. dalam Tirani dan Benteng ini ada sebuah puisi yang ingin melibatkan tuhan dengan segala kerendahan hati seperti

Tuhan Kami

Telah nista kami dalam dosa bersama

bertahun membangun kultus ini

dalam pikiran yang ganda

Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

………(Doa, 1966)

            Puisi yang berjudul Doa ni terkesan berbeda dengan puisi yang lainnya daalam buku iini, Taufik tidak hanya berteriak tidak menentu dalam kata-kaatanya, namun ia sematkan panjatan doa dalam puisinya untuk masa orde lama.

Foto dalam Tirani dan Benteng

            Dalam buku puisi ini, tidak hanya berisi puisi saja, tapi juga berisi gambar-gambar dimasa itu, yang didapat dari berbagai sumber yang sangat rapi menyimpan file-file foto tersebut selama bertahun-tahun milik DR. Boen S.Oemarjati dan juuga Birpen KAMI pusat. Vidualisasi demondtrasi 1966 dan puisi saling memperkaya buku Tirani dan Benteng ini, foto itu tidak harus menerangkan-menjelaskan isi puisi disebelahnya, dan puisi itu bukan pula bertugas sebagai teks gambar tersebut. Masing-masing beriri sendiri tapi mereka bersahut-sahutan dan sama-sama berteriak memanggil atau bahkan barang kali berduet menyanyi. Mereka lahir dalam masa yang bersamaan, menyaksikan zaman itu.

Daftar Pustaka

Taufik Ismail. 2001. Tirani dan Benteng. Jakarta: Yayasan Indonesia.

Taufik Ismail. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. 1998. Jakarta: Yayasan Ananda

 

 

 

Amir Hamzah dan Tuhan

            Puisi Amir Hamzah dalam Nyanyian Sunyi pada umumnya lebih bebas dari sajak-sajak dalam Buah Rindu. Sususnan empat seuntai dengan tiap baris terdiri dari empatkata seperti lazimnya bentuk syair dan pantun digantikan oleh bentuk yang meninggalkan aturan lama. Dari 24 (25) sajak dalam kumpulan ini ada 8 yang mengarah kebentuk prosa beriarama yaitu “Doa”, “Hanyut Aku”, “Taman Dunia”, “Mengawan”, Panji di Hadapanku”, Memuji dikau”, dan “Kurma.” Perkataan Tuhan dipakai dalam pengertian tertentu keagamaan tidak lagi dcampur baurdengan dewa-dewa dari agama hindu. Konon yang menggerakan Amir membuat sajak-sajak Nyayiian Sunyi adalah kejadian yang mengguncangkan jiwanya, diharuskan kawin dengan anak Sultan Langkat yang selama itu membiayanya, sedangkan ia sudah jatuh hati pada gadis lain. Ddalam pergolakan batinnya ia mencarii jawab dalam kesunyian yang diianggapnya.

            Didalam sunyi itulah Amir bersoal menjawab dengan waktu, dengan dirinya, dengan tuhan, memikirkan soal-aoal rahasia hidup.

Hanya Aku

Hanyut aku, kekasihku !

Hanyut aku !

ulurkan tanganmu, tolong aku.

Sunyiny sekelilingku!

Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati,

tiada air menolak ngelak.

……….                                                                                                                    

            Ketika kita selesai membaca puisi di atas maka dapat kita tangkap suatu kebmbangan dala diri Amir Hamzah yang seolah hanyut tanpa ada yang menolong dan tanpa ada upaya. Terasa begitu pasrah. Pantaslah bila Amir Hamzah dikatakan penyair yang relgius, karena baik dalam kumpulan pusinya Buah Rindu dan Nyanyian Sunyi selalu melibatkan Tuhan didalamnya, seperti

Karena Kasihmu

Karena Kaihmu

engkau tentukan waktu

sehari lima kali kita bertemu

Aku anginkan rupamu

kulebih sekali

sebelum cuaca menal sutera

…………….

Puisi diatas dapat kita terka mengenai keinsyafan pada sebuah doa dalam ibadah shalat. tentang sebuah permintaan dan pengharapan kepada Tuhan.

            Dibandingkan dengan kumpulan puisi Amir yaitu Buah Rindu, nampak lebih matang Nyanyian Sunyi yang ditulis dalam satu suasana kejadian yang dialami penyair yang memaksanya mencari maknanya hidup ke kitab suci dan sejarah dan memaksanya masuk meninjau kedalam diri, malah menyadari diri dari luar dan menempatkannya dalam hubungan alam kejadian. Begitulah Amir Hamzah, Raja Pujangga Baru yang mendalami benar arti kehidupannya dengan Tuhan.

Daftar Pustaka

Amir Hamzah. 2008Nyanyi Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.

H.B. Jassin. 1996. Amir Hamzah Raja Penyair Pujangga Baru. Jakarta: PT Gramedia Wididasarana Indonesia

 

 

 

 

Akar Berpilin Milik Gus Tf

            Gus tf  lahir 13 Agustus 1965 di Payakumbuh Sumatera Barat. Kolektor dan pekerja puisi. Akar Berpilin adalah buku puisinya yang ke-3 setelah Sangkar Daging (Garsindo, 1997) dan Dagng Akar (Penerbit buku Kompas, 2005).

            Akar berpilin adalah salah satu bentuk atau jenis ukiran di Minang Kabau. Seluruh ukiran Minang kabau yang kemudian menjadi ragam hias yang perkembangannya antara lain sangat terlihat dalam sulaman atau bordiran, berasal dari ukiran yang terdapat diseluruh bagian bangunan yang menghiasi rumah gadang, rumah adat minang kabau.

Mata Cangkul

Cangkullh aku.” Rindu jadi lebam, setiap kali pulang

ke curam Tubuhmu. Dalam dada pohon Cemara, hijau berayun

desan napasku. Musim tanammu, Adam, “Cangkullah aku.”

Tak tanah tak lumpur, tak gembur: ladangmu juga

…………………..

…………………..

2005

Tiga Kata suci

Aku kini tahu, kenapa “menguap” kata sucimu. Bila

kau biar getir mendidih, meletup hilang si gugu sediih.

Aku kini tahu kenapa “mengendap” kata sucimu. Bila  sekam dendam, tinggal lepah jerami diam

aku kini tahu, kenapa “meresap” kata sucimu. Bila

Kautepis tepuk tepis, menyesak naik si ceguk tangis

Saat membaca kumpulan puisi dalam buku ini maka kita seolah dibawa kea lam pikiran penulis yang melayang-layang, tentang ke sebuah kehidupan yang bermacam-macam, seperti cerita Adam dan Hawa dalm puisi “Mata Cangkul”, dan bentuk kekecewan dalam pusi Tiga kata Suci.

            Dalam kumpulan pusi inipun kita akan menemukansebuah puisi yang sanagat menarik dan berbeda dari puisi-puis lainnya yang berjudul Sepuluh Dialog Tubuh dalam puisi ini seolah tubuh berdialog dalam 10 bait puisi yang memvisualkan dialog yang diilakukan dalam organ tubuh kita. Puisi ini sangat menarik karena setap dialognya berbeda lembaran, jadi perdialog menggunakan satu lembar halaman dan hanya berisi dua baris kalimat, namun antara satu dialog dan yang lainnya saling berterkaitan dari dialog 1 sampai dialog 10.

            Kumpulan puisi milik Gus tf ni sangat member imajinasi yang kuat bagi pembaca dan penikmat puisi khususnya. Puisi yang ditulis Gus dalam rentang waktu dari tahun 2001-2007 ini member nuansa bary bagii penikmat puisiyang berisi 38 puisi didalamnya.

 

Daftar Pustaka

Gus Tf. Akar Berpilin. 2009. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mencium Puisi Joko Pinurbo

            Kepada cium adalah buku kumpulan puisi Joko Pinurbo yang lahir pda 11 Mei 1962. Ia menamatlan studi jurusan Pendidikn bahasa dan Sastra Indonesia Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (sekarang Sanata Dharma), Yogyakarta.

Dalam kumpulan puisinya kepada Cium, Joko Pinurbo banyak menggunakan kata-kata yang tidak asing, yaitu bahasa sehari-hari yang lazim diguanakan dalamberkomunikasi, seperti pada kutipan puisinya Harga Duit Turun Lagi

Mengapa bulan di jendela makin lama

makin redup sinarnya

karena kehabisan minyak dan energy

mimpi semakin mahal,

hari esok semakin tak terbeli.

……………..

atau

 

Layang-layang Ungu

Celana ungu pemberian kakekku kugubah

menjadi laying-layang; kulepas ia di malam terang

Terbang, terbanglah layang-layangku, celanaku

mencium harum bulan: ranum bayi

yang masiih disayang waktu;menjangkau relung bunda senja

            Puisinya sangat aktif dan begitu enerjik, mencampur baurkan bahasa sehari-har idengan sedikit kiasan, namun maknanya dapat tetap tertangkap dengan mudah. sedikit nyeleneh dan interaktif dalam menyampaikan kata-kata. Tapi buakan berarti puisinya hanya meulu itu, dalam puisinya yang berjudul Magrib Dapat kita temui perbedaan

Di bawah alismu hujan berteduh.

Di merah matamu senja berlabuh

            Puisi pendek yang singkat, hanya dua baris dalam satu bait dan menggunakan kata-kata yang indah namun tetap sederhana, tidak ada kata yang nyeleneh seperti contoh puisi sebelumnya.

Puisi yang satu ragam denagn puisi tersebut seperti Ranjang Kecil

Tubuhmu tak punya lagi ruang

ketika relungmu menghembus raung.

            Tetap sederhana, dua baris dan menarik, itulah keistimewaan dari puisi Joko Pinurbo ini.

Joko Pinurbo banyak meneirma berbagai penghargaan dari puisi-puisi karyanya. seperti penghargaan puisi terbaik jurnal puisi 2001, Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan dan lain sebagainya.

 

Daftar Pustaka

Joko Pinurbo. Kepada Cium. 2007. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

 

 

 

 

 

Tentang Tubuh Dan Kematian

            Teka–teki tentang tubuh dan kematian adalah antologi puis idari delapan penyair muda, Bernad Batu Bara; Dea Anugrah; Eko Putra; Galih Pandu Adi; Pringadi Abdi Surya; Rozi Kembara, Syaiful Bahri, Steven Kurniwan yang masing-masing dari mereka adalah para penyair muda yang memiliki berbagai prestasi dibidang sastra dan puisi khususnya.

            Dalam antologi Puisi ni para penyair sanagat apik mengemas kata-kata dan jalinan bahasa, keseluruhan mereka rata-rata memakai tema yang sama yatu cinta, namun tiidak melulu cinta, banyak lagi yang lannya sepert kenangan, penghayatan tentang kehdupan dan seperti judulnya yang iingin membuka teka-teki tubuh dan kehidupan. seperti dapat kit abaca dalam kutiapan pusi karya Dea Anugrah yang berjudul Kalau Kau ingin mengerti

Kalau kau ingin mengerti

bagaimana aku mencintaimu

berpalinglah

Dari daun-daun gugur dan gerimis yang menari

sekedar

dalam sajak sajak sapardi

……

atau puisi karya Eko Putra Getaran Hujan

Kepada Orin

bagai getaran hujan

yangmelenyapkan

sebuah janjiku kepadamu

rasa dingin begitu sulit ku tejemahkan. walau kau beri

aku selusin selimuut menutupi

sekujur tubuhku yang gigil.

……

……

            Kutipan puisi yang berlatar belakang dari cinta yang dibuat oleh Dea anugrah dan Eko Putra disampng puisi ini terdapat berbagai puisi lain yang sangat indah dan dapat membawa pembaca menerawang jauh terutama tentang perihal cinta yang banyak dbicarakan dalam antologi puisi ini. Salah stu puisi yang bertema perpsahan seperti yang ditulis oleh Rozi Kembara

Usai Sebuah Bom Meledak Dalam Mimpi Kami

Upacara kepulangan kami rayakan dengan sebait doa kelabu yang kami suling dari tumpukan kemarau.

Tiada wangi kembang, ataupun rasa kehilangan yang menggali lambung Samudera. Ataupun belasungkawa

yang berdenyut kencang di nadi hari.

            Begitulah salah satu kutipan puisi milik Rozi Kembara. Yang menggambarkan kehilangan orang tersayang yang dikemas dalam bahasanya.Keliahaian penyair muda dalam antologi puisi ini tidak diragukan lagi. Karya-karya mereka banyak dipublikasikan seperti di berbagai media cetak dan lain sebagainya.

Daftar Pustaka

Bernard Batubara dkk. 2010. Teka-Teki Tentang Tubuh dan Kematian. Yogyakarta: Indie Book Corner.

 

 

 

 

Evi Pengantin yang Sepi

            Pengantin Sepi adalah kumpulan puisi Evi Idawati ditengah langkanya penyair wanita dalam sejarah sastra Indonesia karena kedudukan dan peran perempuan kita dalam masyarakat nyatanya lebih dianggap berada pada kelas dua. feminsme adalah bentuk kekuatan perempuan dalam mensejajarkan atau tidak ingin dibedakan haknya dengan laki-laki. Maka Evi nampaknya lahir dar pemahaman tersebut. Tap puisi Evi bukan hanya tentang perempuan, Evi hanya ingin meneriakan atau mengungkapkan apa yang iia rasakan lewat puisi, menceritakan tentang perasaan perempuan kala ini seperti dalam puisinya.

Sunyi Tumbuh di Rahimku

Aku mencitai rembulan

yang hidup di matamu

dan sunyi yang tumbuh dirahimku

angin mengiring air mata

menetes tumbuh di ranjang bisu

tempat engkau dan aku mengukir diri

…..

 Diantara Dua Laki-Laki

diantara dua laki-laki

aku duduk menatap matahari

……..

            Puisi Evi bener-benar memposisikan wanita didalamnya. Seperi puisi “Sunyi tumbuh di Rahimku”, dan “diantara dua laki-laki”, hal ini dapat dilihat Rahim hanya dimiliki oleh perempuan dan perempuan diantara dua laki-laki. Bukan hanya puisi tersebut yang menempatkan perempuan sebagai subyeknya juga ada dalam puisi “Pengantin Sepi”,”Rahim Tertikam’, “Sebagai Bulan” dan lain sebagainya. Evi meneriakan hati perempuan yang kadang hanya dipandang sebelah mata.

            Namun sebagian besar sajak Evi yang terhimpun dalam antologi ini agaknya kurang tepat bila disebut sebagai pembrontakan jiwa perempuan pada tradisi-tradisi yang sudah ada, Evi hanya terkesan ingin menulis puisi sesuai dengan hati tanpa adanya keinginan dianggap depan oleh tradiisi yang selalu menempatkan perempuan di garis belakang. Tapi terlepas dari apapun, Evi mampu menunjukan bahwa perempuan tidak lemah dan dapat berkarya layaknya laki-laki. Tidak ada istilah perempuan harus selalu ada digars belakang. Perempuan Indonesia mampu berkarya dan jangan di pandang sebelah mata saja.

            Evi Idawati yang lahir di Demak, 9 Desember 1973. Menulis cerpen, puisi dan esai di berbagai meda msa. Aktris teater dan sinetron, juga menulis scenario. Puluhan kali pentas teater modern. Dan masih banyak prestasi lainnya.

 

Daftar Pustaka

Evi Idawati. 2002. Pengantin Sepi. Yogyakarta: MOESTIKAWACANA

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

AUBADE Rachmat Djoko Pradopo

            AUBADE adalah kumpulan puisi karya Rachmat Djoko Pradopo yang ia tulis sejak awal tahun 1960-an.

            Dalam puisi Rachmat Djoko Pradopo ini menggunakan bahasa yang sederhana, dan penuh majinatif, memuji alam, menggambarkan keadaan seperti dapat kit abaca pada kutipan puisi

Di Cerlang Matamu

Di cerlang matamu

kulihat pagi bangkit berseri

mencairkan kembali hidupku yang beku

wahai, merdunya burung berkicau

meloncat-loncat dar dahan ke dahan

bernyanyi sorak sorai dalam hatiku

1967

            Juga dalam puisi lainnya seperti “Ada Saat-saat”, ‘Di Pegunungan”, “Pesona”, dan lain sebagainya menggunakan kalimat-kalimat sederhana. Puisi-puisi dalam buku ini menggambarkan suasana alam yang penyair visualkan dalam katakatanya seperti “ angin hijau”, “kicau burung dalam nyanyiannya”, “matahari pagi” dan lain sebagainya. Puisi Rachmat Djoko Pradopo ini tergolong unik, ketika kita membaca sebuah judul Nina Bobok, didalamnya Joko seolah menidurkan gelombang taip yang dmaksud gelombang disinlah adalah pikiran. Lewat bahasa yang lugas dan sederhana Rachmat Djoko Pradobo seperti memberikan energy tersendri bagi buku kumpulan puisinya ini. Dalam kumpulan puisinya iin juga tidak hanya membicarakan alam, tapi juga memuji penciptanya sepert yang terdapat pada kutipan puisi Sujud

dan apa yang kami bisa adalah

susjud pada kaki kebesaran-Mu

yang tegak dimana-mana

meski keberadaan kami tak bisa

Menggapai keberadaan-Mu yang tak kasat mata.

1994

            Bukan hanya puisi itu saja yang membicarakan Tuhan ada pula puisinya yang berjudul “Doa”, yang berisikan doa kepada tuhan dengan penuh penyerahan dapat tergambar dalam

kata demi doa telah di ucapkan

semoga doaku sampai pada-Mu

Amin!

            Puisinyapun ada pula yang menceritakan seuatu tempat Yang dimajinasikan Begitu indah Lewat Kata-Katanya Seperti Puisi Pasar Kembang, Bunaken dan Sumba.

            Sedangkan AUBADE sendiri adalah salah satu puisi dalam buku ini yang menjad judul besar menceritakan tentang sorak-sorai alam dan bernuansa pagi seperti “kenanga”, “cempaka”, “burung pipit”, “kupu-kupu”, burung bunga dan hutan dipilih menjadi kalimat dalam pusi ini.

Daftar Pustaka

Rachmat Djoko Pradopo. 1999. AUBADE. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

 

 

 

 

 

Mengintip Sapardi

Aku Ingin

Aku Ingin Mencintaimu dengan sederhana:

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada apii yang menjadikannya abu

Aku ingn mencintaimu dengan sederhana:

 dengan isyarata yang tak sempat diisampaikan

 awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

(Sapardi Djoko Damono, 1989)

            Siapa yang tidak tahu puisi tersebut, puisi yang seolah sekarang menjadi tren dikalangan anak muda, khususnya penggiat sastra pastilah tahu puisi ini. Banyak orang memuji Sapardi setelah membaca puisi ini. “Romantis” itulah kata yang akan keluar setelah orang membaca puisi ini, memang puisi yang berjudul aku ingin seolah mempunyai jiwa tersendiri dan ditulis dengan tulus oleh Sapardi, sebuah bentuk keikhlasan yang ada salam puisinya yang sarat makna terutama mengenaii hal yang bernama cinta. Menelaah lebih lanjut tentang puisi Sapardi dalam buku kumpulan puisi Hujan di Bulan Juni  kita akan tambah terkagum membaca puisi-puisi Spardi yang lainnya seperti puisi Dalam Sakit, Jarak, sepasang sepatu tua, bola lampum pada suatu pagi Hari dan tentunya Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah dar hujan bulan Juni

dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

………

            Puisi Sapardi menggunakan kata-kata yang sederhana, tapi sangat bermakna dan maknanya tersembunyi atau tersirat dan perlu dihaya

 

 

seperti  juga dapat kita lihat kutipan puisi Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti jasadku tak aka nada lagi

 tapi dalam bait-bait sajak ini kau tak kan ku relakan sendiri

……

            Tidak jauh beda dengan model pusinya yang berjudul Aku Ingin, hal memperjelas bahwa Sapardi lebih senang mengungkapkan maksud dalam puisinya lewat kata-kata yang begitu apik ia kemas dan benar-benar tersembunyi. Pantaslah bila Sapardi sanagat banyak dikagumi para pecinta puisi. Dalam kumpulan buku pusi ini memuat 96 pusisi antara tahun 1964 sampai 1994.

Boigrafi singkat Sapardi

            Sapardi Djoko Damono dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1940. Puisi-puisi pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak 1975 dan pernah aktif sebagai redaktur majalah sastra-budaya Basis, Horison, Kalam, Tenggara (Malaysia) ini adalah: Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000). Sedangkan karya-karya sastra dunia yang diterjemahkannya: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988; Okot p’Bitek).

Daftar isi

Sapardi Djoko Damono. 2003. Hujan Bulan Juni. Jakarta: Grasindo.

 

 

 

 

 

Surat Cinta yang Panjang Lebar

            Buku puisi yang berjudul Surat Cinta Enday Rasidin adalah  puisi karya Ajip Rosidin. yang memuat 36. Puisi dalam buku ini dituangkan secara panjang lebar, disaat para penyair sedang senang memproduksi puisi yang singkat yang misal hanya terdiri dari satu bait dan baris yang sangat sedikit yang bahkan hanya satu baris, maka lain dengan puisi yang dibuat Ajip, dalam kumpulan puiisinya.Puisi yang berjudul Nyanyian Pensiunan sangatlah panjang yang terdiri dari 14 bait yang masing-masing mempunyai rata-rata tiga bars didalamnya. Bukan hanya itu puisi inipun dibagi menjadi lima babak dengan sering mengulang kata “Mayat” yang menggambarkan keadaan yang rusuh pada zamannya.

            Bukan hanya puisi Nyantian Pensiun yang sangat panjang dan dibag dalam babak puisi lain seperti Nyanyian Para Petani Jatiwangi, Lagu duka masa kini, Tamu malam, Nyantian Mahdapi. Puisi yang dijadika juduk dalam buku iini yaitu Surat Cinta Enday Rasidin juga sangat panjang terdiri dari delapan bait dan 29 baris berisi tentang perjuangan kebersamaan seperti dalam baris kata “kita telah jalan beriringan dengan pantolan yang digulung hingga lutut, Berperinci miring dan Sapu tangan bersulam biru”

Biografi Ajip Rosidin

            Ajip mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastera, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastra Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik.

            Sejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan Hadiah Sastera Rancagé setiap yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

            Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda

Penghargaan

*                   Hadiah Sastera Nasional 1955-1956 untuk puisi (diberikan tahun 1957) dan 1957-1958 untuk prosa (diberikan tahun 1960).

*                   Hadiah Seni dari Pemerintah RI 1993.

*                   Kun Santo Zui Ho Sho (“Bintang Jasa Khazanah Suci, Sinar Emas dengan Selempang Leher”) dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang 1999

*                   Anugerah Hamengku Buwono IX 2008 untuk berbagai sumbangan positifnya bagi masyarakat Indonesia di bidang sastera dan budaya.

Karya-karyanya

Ada ratusan karya Ajip. Beberapa di antaranya

*                   Tahun-tahun Kematian (kumpulan cerpen, 1955)

*                   Ketemu di Jalan (kumpulan sajak bersama SM Ardan dan Sobron Aidit, 1956)

*                   Pesta (kumpulan sajak, 1956)

*                   Di Tengah Keluarga (kumpulan cerpen, 1956)

*                   Sebuah Rumah buat Haritua (kumpulan cerpen, 1957)

*                   Perjalanan Penganten (roman, 1958, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis         oleh H. Chambert-Loir, 1976; Kroatia, 1978, dan Jepang oleh T. Kasuya, 1991)

*                   Cari Muatan (kumpulan sajak, 1959)

*                   Membicarakan Cerita Pendek Indonesia (1959)

*                   Surat Cinta Enday Rasidin (kumpulan sajak, 1960);  dan lain sebagainya.

*                    

*                   Daftar Pustaka

Ajip Rasdin. 2002. Surat Cinta Enday Rasidin. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

F:\Ajip_Rosidi.htm

Balada Si Burung Camar

Balada Orang-orang Tercinta adalah kumpulan puisi Rendra yang berisi 19 puisi. Willibrordus Surendra atau yang lebih dikenal dengan W.S. Rendra dilahirkan di Surakarta pada tanggal 7 November 1935. Dia adalah penyair perode 1953-1961 dalam sejarah sastra Indonesia.

Puisi balada adalah puisi yang bercerita tentang kepahlawanan seseorang, tokoh pujaan, atau orang-orang yang menjadi pusat perhatianPuisi-puisi balada W.S. Rendra di antaranya, Balada Sumilah, Balada terbunuhnya Atmo Karpo, dan masih banyak lagi.

Kumpulan sajaknya Balada Orang-Orang yang Tercinta, mengisahkan orang-orang yang tersisih, seperti perampok, pembunuh, pelacur, perempuan kesepian, ibu yang rindu anaknya, dan lain sebagainya.

Rendra si Burung Camar, dikenal sebagai penulis puisi-puisi balada. Salah satu puisi balada karya Rendra yang cukup populer adalah puisi Balada Terbunuhnya Atmo Karpo. Berikut kutipan puisi tersebut.

BALADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi

bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-

pucuk para

mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang

diburu

Surai bau keringat basah, jenawi pun telanjan


Segenap warga desa mengepung
hutan itu

dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo

mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang

berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri


Satu demi satu yang maju tersadap darahnya

penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka


- Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa

Majulah Joko Pandan! Di mana ia?

Majulah ia, kerna padanya seorang kukandung dosa


Anak panah empat
arah dan musuh tiga silang

Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang


- Joko Pandan! Di mana ia!

Hanya padanya seorang kukandung dosa


Bedah perutnya tapi masih
setan ia

Menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala


Joko Pandan! Di mana ia!

Hanya padanya seorang kukandung dosa


Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan

segala menyibak bagi derapnya kuda hitam

ridla dada bagi derunya dendam yang tiba


Pada langkah pertama keduanya sama
baja

Pada langkah ketiga rubuhnya Atmo Karpo

Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka


Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka

Pesta bulan, sorak sorai, anggur darah


Joko Pandan menegak, menjilat darah di
pedang

Ia telah membunuh bapaknya

            Dalam puisi tersebut tergambar sebuah kisah pertumpahan darah antara ayah (Atmo Karpo) dan anaknya (Joko Pandan). Kisah ayah yang dibunuh oleh anaknya sendiri menjadi cerminan realitas kehidupan sesungguhnya. Sekarang ini, banyak peristiwa nyata yang sama dengan apa yang digambarkan Rendra dalam puisi tersebut.

            Puisi lainnya seperti Ballada Anita, Perempuan sial, Ballada gadis Jamil si Jagoan menceritakan balada perempuan yang tangguh yag rRendra ciptakan dalam karyanya. Rendra bukan hanya sekedar jagonya menulis puisi cinta tapi Rendra juga mampu membangkitkan segala rasa seperti nasionalisme, kearifan lokal dan lain sebagainya seperti Puisinya Sebatang Lisong tapi puisi tersebut tidak dimuat dalam Buku ini.

 Biografi Rendra

            Rendradilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Sepulang memperdalam pengetahuan drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ditahan Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta (1956; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjalanan Bu Aminah (1997), Mencari Bapak (1997). Buku-buku puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Indonesian Poet in New York (1971; diterjemahkan Harry Aveling, et.al.), Rendra: Ballads and Blues (1974; Harry Aveling, et.al.), Contemporary Indonesian Poetry (1975; diterjemahkan Harry Aveling). Ia pun menerjemahkan karya-karya drama klasik dunia, yaitu: Oidipus Sang Raja (1976), Oidipus di Kolonus (1976), Antigone (1976), ketiganya karya Sophocles, Informan (1968; Bertolt Brecht), SLA (1970; Arnold Pearl). Pada 1970, Pemerintah RI memberinya Anugerah Seni, dan lima tahun setelah itu, ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta.

 

Daftar Pustaka

Rendra. 2000. Ballada Orang-orang Tercinta. Jakarta: Pustaka Jaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Membaca Buku Harian Subagio Sastrowardoyo

Buku Harianini terdiri dari 41 sajak jarya Subagio Sastrowardoyo yang ia tulis saat ia berada dibeberapa tempat Leiden, Paris dan  Leeuwarden, dan buku ini juga terdiri dari 2 kumpulan sajak, Buku Harian sendiri dan Sajak Sejenak. Dalam Sajak Sejenak ia menceritakan Indonesia. Pada bagian pertama, yakni bagian Buku Harian, puisi yang sisajikan berupa puisi pendek. Dan terdiri dari 3 judul, yaitu Leiden, Paris, dan Leeuwarden. Pada puisi bagian kedua, puisi-puisi yang disajikan berupa puisi panjang, misalnya saja puisi yang berjudul Hari dan Hara yang mencapai 4 lembar. Yang dahsyat dari Buku Harian, adalah menggambarkan perasaan seseorang yang jauh dari “rumah” dengan begitu indah. Ada rasa sunyi. Ada rasa getir. Ada setangkup rindu. Ada rasa pilu. Ada nuansa murung. Semuanya dirangkum dalam kumpulan puisi dengan judul yang agak unik, nama tempat, tanggal dan terkadang juga dicantumkan detail jam.

Dalam Buku Harian di beberapa sajaknya, Soebagio Sastrowardoyo juga sudah menggunakan kata-kata asing, misalnya saja dalan sajak yang berjudul LEIDEN 30/10/78 (MALAM pk. 20.15). Tidak hanya itu saja, setting dalam sajaknya sebagian besar juga diluar negeri.

Pernah ada yang menulis bahwa puisi-puisi Soebagio Sastrowardoyo digerakkan oleh kegelisahan metafisik. Puisi ini berbicara tentang kesia-siaan, tujuan hidup yang tidak jelas, kesepian, kesakitan, cinta yang penuh rindu, hidup dan kematian, keterasingan atau keakraban. Semua hal yang muncul dari pergaulan seseorang dengan alam: matahari, malam,laut, angin, awan, derai-derai pohon ataupun hamparan padang pasir yang gersang.

Biografi Singkat

Subagio Sastrowardoyodilahirkan di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924, dan meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995. Peraih M.A. dari Departement of Comparative Literature, Yale University, Amerika Serikat ini pernah mengajar di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM, SESKOAD Bandung, Salisbury Teachers College, dan Flinders University, Australia. Cerpennya, “Kejantanan di Sumbing” dan puisinya, “Dan Kematian Makin Akrab”, masing-masing meraih penghargaan majalah Kisah dan Horison. Kumpulan puisinya, Daerah Perbatasan membawanya menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1971), sementara Sastra Hindia Belanda dan Kita mendapat Hadiah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta, dan bukunya yang lain, Simfoni Dua, mengantarkannya ke Kerajaan Thailand, menerima Anugerah SEA Write Award. Karya-karyanya yang berupa puisi, esai, dan kritik, diterbitkan dalam: Simphoni (1957), Kejantanan di Sumbing (1965), Daerah Perbatasan (1970), Bakat Alam dan Intelektualisme (1972), Keroncong Motinggo (1975), Buku Harian (1979), Sosok Pribadi dalam Sajak (1980), Hari dan Hara (1979), Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan (1992), Dan Kematian Makin Akrab (1995).

Dalam sastra Indonesia Subagio Sastrowardoyo lebih dikenal sebagai penyair meskipun tulisannya tidak terbatas pada puisi. Nama Subagio Sastrowardoyo dicatat pertama kali dalam peta perpuisian Indonesia ketika kumpulan puisinya Simphoni terbit tahun 1957 di Yogyakarta. Tentang kepenyairannya itu, Goenawan Mohamad mengatakan bahwa sajak-sajak Subagio adalah sajak rendah. Puisinya seolah-olah dicatat dari gumam. Ia ditulis oleh seorang yang tidak memberi aksentuasi pada gerak, pada suara keras, atau kesibukan di luar dirinya. Ia justru suatu perlawanan terhadap gerak, suara keras, serta kesibukan di luar sebab Subagio Sastrowardoyo memilih diam dan memenangkan diam. Itulah paling tidak sebagian dari karakter kepenyairan Subagio Sastrowardoyo.

Daftar Pustaka

Subagio Sastrowardoyo. 1979. Buku Harian. Jakarta: MTRA SRANGENE

 

 

 

 

 

 

 

 

Analisis 15 Buku Puisi Sastrawan Indonesia

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Puisi

                                   Oleh :

Lisna Mutia Kartika

09201241035

PBSI/ K

 

 

 

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010